Presiden AS Donald Trump. (Vincent Thian/Pool via REUTERS)
INDOZONE.ID - Militer Amerika Serikat meluncurkan serangkaian serangan udara skala besar di Suriah yang menargetkan posisi kelompok teroris ISIS sebagai respons atas serangan yang mengakibatkan kematian beberapa personel Amerika di wilayah tersebut.
Operasi yang dinamakan “Operation Hawkeye Strike” ini diungkapkan oleh pejabat tinggi militer AS sebagai reaksi langsung terhadap serangan yang terjadi pada 13 Desember 2025 di Palmyra, Suriah, yang mengakibatkan tewasnya tiga warga Amerika, termasuk dua prajurit dari Iowa National Guard dan seorang penerjemah sipil. Insiden ini menandai kematian pertama personel tempur AS di Suriah sejak tahun 2019.
Baca juga: Trump Terkejut atas Serangan Israel ke Suriah, Hubungannya dengan Netanyahu Jadi Sorotan
Jet Tempur (Sumber: U.S. Air Force)
Serangan udara yang dilakukan pada 19 Desember 2025 melibatkan berbagai kekuatan militer, termasuk pesawat tempur A-10 dan F-15 dari Angkatan Udara AS, helikopter Apache, serta sistem roket HIMARS. Lebih dari 70 target di wilayah tengah Suriah menjadi sasaran, termasuk infrastruktur, persenjataan, dan fasilitas lain yang dianggap penting bagi kelompok ekstremis tersebut.
Serangan ini juga melibatkan pesawat tempur dari Angkatan Udara Yordania sebagai bagian dari dukungan terhadap operasi tersebut, menunjukkan adanya koordinasi yang berkelanjutan antara AS dan sekutu regional.
Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa tindakan ini bukanlah awal dari perang baru, melainkan balasan tegas untuk melindungi personel dan kepentingan AS di luar negeri. Trump menggambarkan serangan ini sebagai “retaliasi yang sangat serius” terhadap kelompok yang bertanggung jawab atas serangan terhadap warga Amerika.
Hegseth juga menegaskan bahwa operasi ini merupakan bentuk balasan yang tidak akan membuat AS mundur dari komitmennya dalam memerangi terorisme.
Baca juga: Zelenskyy Siap Kerja Sama dengan AS untuk Rumuskan Rencana Akhiri Perang di Ukraina
Meskipun ISIS telah kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya, kelompok ekstremis ini masih aktif dalam bentuk sel-sel yang tersebar. Washington menyatakan bahwa sekitar 1.000 tentara AS masih berada di Suriah untuk mencegah kebangkitan kelompok tersebut dan membantu menstabilkan kawasan.
Serangan udara ini menunjukkan bahwa ancaman ISIS masih dianggap serius oleh Pentagon dan para sekutunya, serta menegaskan kesiapan AS untuk melakukan tindakan militer jika personelnya diserang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters, The Guardian