Aparat keamanan Iran berjaga. (Stringer/WANA via Reuters)
INDOZONE.ID - Di hari peringatan 47 tahun Revolusi Iran, langit Teheran berpendar kembang api.
Dari balkon hotel, koresponden internasional BBC Lyse Doucet mendengar gema 'Allahu Akbar' dari atap-atap rumah.
Namun di sela hiruk-pikuk itu, suara lain ikut melesat dari kegelapan: 'kematian untuk diktator'.
Ini bukan sekadar ketidakharmonisan seremonial.
Ia adalah gema dari gelombang protes Januari lalu yang menurut laporan menewaskan puluhan warga—jumlah korban terbesar dalam sejarah unjuk rasa Iran.
Baca juga: Tragedi Penembakan Guncang Kota Kecil Kanada: Pelaku Tewaskan 8 Orang Termasuk Ibu dan Adik Tiri
Kini, pihak berwenang perlahan mencabut 'blackout internet terpanjang dalam sejarah' dan mengizinkan sejumlah kecil media internasional kembali.
Rabu (11/2) siang, Lapangan Azadi berubah lautan manusia. Ribuan pendukung setia rezim berpawai di bawah sinar matahari.
"Revolusi adalah kebangkitan hidup," ujar seorang wanita muda bercadar.
Namun sehari sebelumnya, di Lapangan Revolusi yang basah gerimis, Doucet bertemu Raha (32) yang menangis tersedu: "Sejak sebulan lalu aku tak bisa makan atau tidur."
Baca juga: Iran Tegas ke AS: Program Rudal Bukan Bahan Negosiasi
"Katanya mereka perusuh, tapi orang-orang itu tak bersenjata. Apa dosa mereka?" Dori (20) tanpa jilbab menimpali: "Setelah internet nyala lagi, kami lihat video mengerikan. Itu membuat kami menangis."
Presiden Masoud Pezeshkian, di panggung yang sama, menyampaikan nada berbeda.
Di satu sisi ia menyalahkan 'propaganda musuh' (kode untuk AS dan Israel) yang dianggap mengobarkan kerusuhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC