INDOZONE.ID - Setelah lebih dari dua tahun terhambat, perlengkapan sekolah masuk Gaza untuk pertama kalinya sejak konflik berkepanjangan melanda wilayah tersebut.
Badan Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengonfirmasi, ribuan paket alat belajar telah berhasil dikirimkan ke Jalur Gaza.
Bantuan itu pun memberi harapan baru bagi anak-anak, yang selama ini kehilangan akses pendidikan.
Paket bantuan tersebut berisi berbagai kebutuhan dasar untuk belajar. Mulai dari pensil, buku tulis, hingga balok kayu edukatif untuk bermain.
Baca juga: Donald Trump Bentuk Dewan Perdamaian Gaza, AS Dorong Fase Baru Gencatan Senjata
UNICEF menyebutkan, pengiriman ini sebagai langkah penting dalam upaya bantuan pendidikan untuk anak Gaza, yang selama dua setengah tahun terakhir terhambat akibat pembatasan masuknya barang bantuan.
Juru bicara UNICEF, James Elder, mengatakan, dalam beberapa hari terakhir ribuan paket rekreasi dan ratusan paket sekolah telah masuk ke wilayah tersebut.
Ia menambahkan, sekitar 2.500 paket sekolah tambahan juga telah mendapat persetujuan, dan dijadwalkan masuk dalam waktu dekat.
Baca juga: Korban Tewas di Gaza Tembus 70.000 Jiwa, Situasi Kemanusiaan Masih Rentan
“Ini adalah masa yang sangat panjang dan berat bagi anak-anak Gaza. Selama dua tahun lebih, pendidikan harus berjalan tanpa perlengkapan yang memadai. Sekarang, kami mulai melihat perubahan yang nyata,” ujar Elder.
Hingga laporan ini diturunkan, pihak COGAT (unit militer Israel yang mengawasi arus bantuan ke Jalur Gaza) belum memberikan pernyataan resmi terkait pengiriman bantuan tersebut.
Selama konflik berlangsung, krisis pendidikan anak Palestina menjadi salah satu dampak paling serius yang jarang terlihat secara langsung.
Pembatasan terhadap masuknya buku pelajaran dan alat tulis, membuat guru harus berimprovisasi dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Banyak anak terpaksa belajar di tenda-tenda darurat, tanpa pencahayaan memadai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters