Kebakaran apartemen Wang Fuk Court di Hong Kong. (REUTERS/Tyrone Siu)
INDOZONE.ID - Pihak berwenang China di Hong Kong memberikan peringatan terhadap media asing di Hong Kong yang dinilai telah menyebarkan informasi yang tidak akurat terkait peliputan kebakaran yang menewaskan sedikitnya 159 orang di kompleks apartemen Wang Fuk Court.
Teguran keras ini dilayangkan saat publik masih terpukul oleh tragedi tersebut dan kota tengah bersiap menyambut pemilihan legislatif.
Dalam sebuah pertemuan resmi, otoritas keamanan nasional China di Hong Kong memanggil sejumlah perwakilan media internasional.
Baca juga: Ribuan Orang Berduka di Lokasi Kebakaran Mematikan Hong Kong, Ada 7 Korban dari Indonesia
Mereka menilai pemberitaan yang muncul belakangan ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi memicu perpecahan sosial.
Kontroversi peliputan media asing di Hong Kong itu dianggap memutarbalikkan fakta, meremehkan upaya penyelamatan, serta mencemarkan kinerja pemerintah dalam penanganan pasca-insiden.
Sejak Undang-Undang Keamanan Nasional diberlakukan pada 2020, otoritas China semakin memperketat pengawasan terhadap aktivitas media.
Baca juga: Kebakaran Besar Picu Evaluasi Penggunaan Bambu dalam Konstruksi di Hong Kong
Teguran terbaru ini memicu kembali kekhawatiran mengenai menyusutnya ruang kebebasan pers di Hong Kong, terutama setelah beberapa media prodemokrasi ditutup dan banyak aktivis yang ditahan karena dinilai mengancam stabilitas kota.
Di pihak warga, tuntutan atas akuntabilitas pemerintah terus menguat. Banyak pihak menilai bahwa kebakaran semakin membesar akibat material renovasi yang buruk dan lemahnya pengawasan keamanan bangunan.
Sentimen publik ini mendorong kritik keras terhadap pejabat terkait, meski pemerintah memperingatkan agar tragedi ini tidak dijadikan alat politisasi menjelang pemilu legislatif.
Otoritas China di Hong Kong menegaskan bahwa segala upaya yang dinilai dapat “mengacaukan kota” tidak akan dibiarkan berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters