INDOZONE.ID - Ribuan orang berduka atas kebakaran mematikan Hong Kong yang menelan 146 korban jiwa di kompleks apartemen Wang Fuk Court, Tai Po.
Tragedi ini menjadi kebakaran paling mematikan dalam lebih dari 75 tahun terakhir di kota tersebut.
Pada Minggu (30/11/2025), masyarakat memadati lokasi kebakaran untuk memberikan penghormatan kepada para korban.
Mereka mengantre lebih dari satu kilometer sambil membawa bunga putih dan menempelkan pesan dukacita untuk para korban kebakaran mematikan Hong Kong itu.
Tsang Shuk-yin, kepala unit identifikasi korban kepolisian Hong Kong, menyampaikan bahwa masih ada 100 kasus yang belum terselesaikan dan 54 jenazah masih menunggu proses identifikasi.
Salah seorang pelayat, Joey Yeung (28), mengungkapkan rasa kehilangan dan kemarahan.
Baca juga: Kebakaran Besar Picu Evaluasi Penggunaan Bambu dalam Konstruksi di Hong Kong
“Setidaknya, berikan keadilan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya, mengingat apartemen neneknya turut hangus.
Komunitas pekerja migran juga turut terpukul oleh tragedi ini. Tujuh pekerja rumah tangga asal Indonesia dan satu dari Filipina telah terkonfirmasi meninggal, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.
Doa bersama pun digelar di pusat Hong Kong oleh komunitas Filipina.
Di tengah duka mendalam, situasi politik kembali memanas. Beijing memperingatkan anti protes di Hong Kong yang berpotensi memanfaatkan kejadian ini sebagai momentum gerakan politik.
Pemerintah pusat mengatakan akan menindak tegas pihak yang mencoba menciptakan kekacauan.
Peringatan ini muncul setelah seorang warga bernama Miles Kwan, yang menggagas petisi penyelidikan independen terkait dugaan korupsi dan pengawasan konstruksi, dilaporkan ditahan aparat. Petisinya sempat ditandatangani lebih dari 10.000 orang sebelum dihentikan.
Baca juga: Kebakaran Apartemen di Hong Kong Renggut 44 Nyawa, Ratusan Masih Hilang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: South China Morning Post