INDOZONE.ID - Para pemilik restoran Jepang di China resah menyusul kembali memanasnya hubungan diplomatik antara Beijing dan Tokyo.
Takashi Ito, salah satu pemilik restoran di Shanghai, mengaku sempat berharap bisnisnya pulih setelah China mulai melonggarkan larangan impor seafood Jepang.
Namun harapan itu kembali pupus ketika ketegangan politik meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.
Baca juga: 491 Ribu Tiket Penerbangan ke Jepang Dibatalkan setelah China Imbau Warganya Hindari Bepergian
Situasi ini menunjukkan dampak ketegangan China-Jepang pada bisnis kuliner, terutama bagi pelaku F&B Jepang yang selama ini bergantung pada impor bahan baku laut dari negaranya.
Serangkaian kebijakan balasan dari Beijing, termasuk pelarangan wisata ke Jepang dan ancaman langkah tegas lainnya, membuat pelaku usaha semakin tertekan.
Ketegangan terbaru dipicu oleh pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menyebut serangan China ke Taiwan jika dinilai mengancam kelangsungan hidup Jepang dapat memicu respons militer.
Baca juga: Ekspor Seafood Jepang Terancam Rugi di Tengah Memanasnya Hubungan dengan China
Beijing bereaksi keras, kembali memberlakukan larangan impor produk laut Jepang serta membatalkan sejumlah agenda budaya dan pertemuan antarnegara.
Ito mengatakan bahwa setiap gejolak diplomatik selalu menjadi pukulan besar bagi usahanya.
“Ketika hubungan China dan Jepang bergetar, kami yang pertama merasakan dampaknya. Sangat menyakitkan,” kata Ito.
Pada Rabu (19/11/2025), beberapa pelanggan membatalkan reservasi tanpa alasan jelas. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa pemilik restoran Jepang di China terancam kehilangan stabilitas bisnis jika ketegangan semakin memburuk.
Selama ini, pelanggan lokal China menyumbang sekitar separuh reservasi restoran Ito.
Beijing sebenarnya baru saja melonggarkan larangan yang diberlakukan akibat keputusan Jepang dua tahun lalu untuk membuang air limbah yang telah diolah dari PLTN Fukushima.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Japan Times