INDOZONE.ID - Penasihat Utama Bangladesh, Muhammad Yunus, memperingatkan, negaranya sudah tidak mampu lagi menanggung beban besar dari krisis pengungsi Rohingya di Bangladesh.
Ia menyebutkan, dana dan sumber daya dalam negeri telah benar-benar terkuras. Sehingga, bantuan internasional menjadi satu-satunya harapan.
Saat ini, lebih dari 1,3 juta pengungsi Rohingya di Bangladesh hidup dalam kondisi serba terbatas, terutama di Cox’s Bazar yang kini menjadi kamp pengungsi terbesar di dunia.
Baca juga: Viral Kapal Pengangkut Ratusan Pengungsi Rohingya Hampir Tenggelam di Perairan Aceh
Yunus mengatakan, menampung jumlah pengungsi sebesar itu telah menekan berbagai aspek di negaranya. Mulai dari ekonomi, lingkungan, hingga tata kelola pemerintahan.
“Dengan banyaknya tantangan domestik, kami tidak memiliki ruang lagi untuk mengalokasikan sumber daya tambahan,” ujar Yunus, Senin (25/8/2025).
“Dunia harus membantu mencari solusi berkelanjutan agar mereka bisa kembali ke tanah kelahirannya,” sambungnya.
Baca juga: Belasan Jenazah Diduga Pengungsi Rohingya Ditemukan di Laut Aceh
Situasi semakin sulit karena Bangladesh kehabisan dana untuk pengungsi Rohingya. Bantuan internasional juga cenderung menurun.
Hal itu membuat para pengungsi harus bertahan di tempat penampungan bambu yang sempit, sekolah-sekolah ditutup, dan masa depan generasi mudanya semakin suram.
Sejak tahun lalu, lebih dari 150 ribu orang tambahan melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar, akibat pertempuran sengit antara junta militer dan kelompok bersenjata Arakan Army.
Kondisi ini membuat jumlah pengungsi terus bertambah, sementara kapasitas Bangladesh semakin terbatas.
Pada peringatan delapan tahun gelombang eksodus Rohingya 2017, puluhan ribu pengungsi di kamp menggelar aksi damai dengan membawa poster bertuliskan, “Tidak ada lagi hidup sebagai pengungsi”, “Hentikan genosida”, hingga “Repatriasi adalah solusi utama”.
Mereka menegaskan, bantuan untuk Rohingya di Bangladesh tidak akan cukup tanpa adanya jaminan pemulangan yang aman ke Myanmar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters