Salah seorang anggota Taliban (REUTERS/Stringer)
INDOZONE.ID - Taliban merayakan 4 tahun kembalinya kelompok ekstremis tersebut berkuasa di Afghanistan dengan menggelar acara ‘mandi bunga’ di Kabul.
Perayaan yang digelar pada Jumat (15/08/2025) kemarin dihadiri oleh ribuan pria yang berkumpul di ibu kota Kabul, Afghanistan bagian timur.
Helikopter militer meriahkan perayaan “Hari Kemenangan” itu dengan menjatuhkan ribuan bunga dari udara.
Wanita dilarang untuk mengikuti acara ini, bahkan untuk masuk taman, pusat rekreasi, dan ruang publik lainnya.
Baca juga: Pendaki Tewas Diserang Beruang di Hutan Hokkaido, Jepang
Taliban kembali merebut kekuasaan Afghanistan pada 15 Agustus 2021, setelah memukul mundur pasukan AS dan NATO dan mengambil alih ibu kota Kabul dalam perang yang berlangsung selama 20 tahun.
Sejak dikuasainya sistem pemerintahan Afghanistan oleh Taliban, hukum-hukum Islam dengan interpretasi ketat diterapkan di Afghanistan setelah dekrit Hibatullah Akhundzada diumumkan.
Hukum-hukum tersebut dianggap sebagai hukum yang ‘sangat membatasi’ perempuan. Menurut laporan PBB pada Agustus 2024, setidaknya sebanyak 1,4 juta anak perempuan Afghanistan telah ‘sengaja dirampas’ haknya untuk mendapatkan pendidikan.
PBB juga mengungkapkan bahwa puluhan perempuan Afghanistan mendapat ancaman pembunuhan secara langsung karena bekerja di organisasi non-pemerintah.
Sementara itu, di tengah perayaan berkuasanya Taliban, Anggota Gerakan Perempuan Afghanistan Bersatu untuk Kebebasan (United Afghan Women’s Movement for Freedom) menggelar protes dalam ruangan pada Jumat (15/08/2025), di Provinsi Takhar, Afghanistan bagian Timur Laut.
Mereka menentang sistem represif Taliban yang membatasi hak-hak perempuan. “Hari ini menandai awalnya dominasi kelam yang menyingkirkan perempuan dari dunia pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial,” ucap pernyataan gerakan itu yang dibagikan kepada Associated Press.
Dalam aksi tersebut, para perempuan Afghanistan bersama-sama mengangkat poster bertuliskan ‘Memaafkan Taliban adalah tindakan permusuhan terhadap kemanusiaan’ dan ‘15 Agustus adalah hari kelam’.
Dikuasainya Afghanistan oleh sistem pemerintahan Taliban yang menindas perempuan, membuat Afghanistan dianggap sebagai ‘paria internasional’ atau negara yang dikucilkan atau ditolak oleh komunitas dunia karena terjadi pelanggaran HAM secara sistematis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al Jazeera, The Guardian