INDOZONE.ID - Dalam beberapa Waktu belakangan, Greenland memang menjadi topik pembahasan yang menarik. Terlebih setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara mendadak mengutarakan klaim atas Greenland.
Klaim tersebut pun membuat situasi di Eropa memanas, bahkan Uni Eropa kabarnya tengah bersiap melakukan konfrontasi dengan AS apabila Trump benar-benar menyerang serta merebut Greenland yang secara otonomi masih berada di wilayah Denmark.
Lantas belakangan muncul pertanyaan soal seperti apa sebenarnya Greenland? Berapa penduduk yang menghuni Greenland? Maka dari itu, INDOZONE coba menjelaskan apapun terkait Greenland sebagai salah satu wilayah di bawah otonomi negara Denmark.
Baca juga: Indonesia Resmi Jadi Presiden Dewan HAM PBB 2026: Siap Pimpin dengan Pendekatan Inklusif
Greenland adalah pulau terbesar di dunia yang bukan merupakan benua tersendiri. Terletak di antara Samudra Arktik dan Atlantik Utara, secara geografis Greenland merupakan bagian dari Amerika Utara.
Namun, secara budaya dan politik, ia sangat erat dengan Eropa. Sekitar 80% wilayahnya tertutup oleh lapisan es abadi (ice sheet) yang memiliki ketebalan rata-rata 1,5 hingga 3 kilometer.
Banyak yang salah paham mengenai kedaulatan Greenland, berikut faktanya:
Penduduk Greenland, yang berjumlah sekitar 56.000 jiwa, mayoritas adalah keturunan Inuit. Budaya mereka sangat bergantung pada alam, dengan tradisi berburu dan memancing yang masih kuat.
Bahasa resmi Greenland sendiri adalah Kalaallisut (Bahasa asli), meski bahasa Denmark juga digunakan secara luas di sejumlah wilayah.
Baca juga: Truk Sampah Hajar Pembatas Jalan di MT Haryono Jakarta, Untung Tak Ada Korban
Ada dua alasan utama mengapa negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia menaruh minat besar pada Greenland:
Greenland adalah "pasien nol" dalam krisis iklim. Jika seluruh lapisan es di Greenland mencair, para ilmuwan memprediksi bahwa permukaan air laut global akan naik sekitar 7 meter. Hal ini akan menenggelamkan kota-kota pesisir di seluruh dunia, termasuk Jakarta, New York, dan London.
Laju pencairan es di Greenland saat ini tercatat tujuh kali lebih cepat dibandingkan pada dekade 1990-an, sebuah fakta yang membuat para ahli iklim terus memberikan peringatan merah kepada dunia.
Greenland bukan sekadar "Tanah Hijau" yang namanya diberikan sebagai trik pemasaran oleh Erik si Merah seribu tahun lalu.
Ia adalah benteng terakhir es dunia dan masa depan geopolitik yang sangat strategis. Memahami Greenland berarti memahami tantangan masa depan bumi kita.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: