INDOZONE.ID - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan angka anak mengakhiri hidup di Indonesia, merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.
Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, pada Rabu 4 Februari 2026, menyatakan bahwa sejauh 2026 berjalan, ada tiga kasus anak mengakhiri hidup.
Kasus teranyar adalah siswa kelas IV SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) berumur 10 tahun bunuh diri. Ia diduga mengakhiri hidup karena tidak dibelikan buku dan pena seharga Rp10.000.
"Tahun 2023 ada 46 anak mengakhiri hidup, tahun 2024 ada 43 anak mengakhiri hidup, dan di tahun 2025 ada 26 anak mengakhiri hidup. Masuk tahun 2026 ini sudah ada tiga anak (mengakhiri hidup). Ini tidak bisa kita normalisasi, secara garis besar Indonesia berada pada kondisi yang darurat anak mengakhiri hidup," kata Diyah Puspitarini saat dihubungi di Jakarta, dikutip dari ANTARA, Kamis (5/2/2026).
Ia menyebut kasus serupa di NTT, terjadi di Kebumen, Jawa Tengah, pada 2023 silam. Kala itu, korban menceburkan diri ke sungai karena tidak diberi jajan.
"Kasus seperti ini juga pernah terjadi tahun 2023 di Kebumen. Hampir mirip, hanya saja anaknya ini meminta uang jajan, tidak ada uang. Kemudian dia (anak) menceburkan diri ke sungai," kata Diyah.
Baca juga: Kronologi Siswa SD di NTT Bunuh Diri: Tinggalkan Surat Perpisahan untuk Mama
Penyebab Anak Bunuh Diri
Diyah pun menjelaskan ada beberapa penyebab anak memutuskan melakukan aksi ekstrem seperti mengakhiri hidup. Menurutnya, penyebab paling besar tindakan ekstrem ini adalah perundungan.
"Data di KPAI menunjukkan bahwa faktor paling besar dari anak mengakhiri hidup itu adalah faktor bullying, kemudian faktor pengasuhan, ekonomi, game online, dan asmara," tuturnya.
Menilik kasus anak mengakhiri hidup dalam beberapa tahun terakhir, Diyah menilai masyarakat harus mulai sadar peduli pada fakta menyedihkan ini.
"Kami berharap masyarakat jangan menganggap remeh karena anak yang mengakhiri hidup, bahkan (kasus mengakhiri hidup anak) SD itu juga ada setiap tahun," jelas Diyah.
Kronologi Siswa SD di NTT Bunuh Diri
Sementara itu, kisah pilu siswa SD di NTT yang membuat publik sedih ini, terjadi pada akhir Januari lalu.
Kamu harus tahu, korban merupakan satu dari lima bersaudara, anak seorang ibu berinisial MGT (47).
Namun, dia tinggal dengan sang nenek di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
MGT merupakan orang tua tunggal karena sang suami meninggal sejak korban ada di dalam kandungan. Untuk hidup, MGT bekerja sebagai petani hingga melakoni berbagai pekerjaan serabutan lain.
Kejadian nahas ini bermula pada Rabu 28 Januari 2026, malam WITA, saat korban menginap di rumah sang ibu, di desa tetangga.
Korban meminta dibelikan buku dan pena seharga Rp10.000 pada malam itu. Akan tetapi, karena tidak memiliki uang, sang ibu tidak bisa mengabulkan permintaan korban.
Keesokan paginya, korban dibangunkan sang ibu untuk berangkat sekolah. Meski mengeluh sakit kepala, sang ibu tetap meminta korban untuk berangkat sekolah.
Baca juga: Konselor Dampingi Keluarga Siswa SD Bunuh Diri di NTT
Dengan ojek, korban diantarkan ke rumah sang nenek untuk mengambil seragam sekolah. Akan tetapi, ia justru menuju bale di kebun milik neneknya.
Pada pukul 11.00 WITA, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan posisi gantung diri di pohon cengkeh dekat bale.
Bersama jasad korban, polisi menemukan kertas yang berisikan salam perpisahan untuk sang ibu.
“Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara