INDOZONE.ID - Di tengah maraknya berita-berita berterbangan di media sosial yang belum tentu kebenaranya ihwal demonstrasi berujung kericuhan disejumlah wilayah di Indonesia pada Agustus 2025, terdapat awak media dari berbagai media nasional berjibaku untuk mendapatkan berita yang akurat.
Tak ayal, para jurnalis ini harus mendapatkan beragam ancaman hingga bahaya keselamatan demi mendapatkan berita yang valid untuk masyarakat.
Tidak ada berita yang senilai dengan nyawa, begitu ungkapan yang melekat di kepala para jurnalis di lapangan. Namun, kata-kata itu seolah hanya angin lalu usai para jurnalis tetap beraksi di tengah kericuhan demo demi memberikan informasi yang akurat sekaligus melawan berita hoax yang muncul di media sosial.
Senin, 25 hingga Jumat, 29 Agustus 2025, demo yang terjadi di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta berakhir kelam lantaran terjadi kericuhan dimana-mana. Tak hanya di Jakarta, kericuhan juga melebar hingga ke sejumlah wilayah yang lainnya.
Baca juga: Selasa 23 September, Bareskrim Mediasi Ridwan Kamil dan Lisa Mariana di Kasus Tudingan Punya Anak
Bukan cuma kericuhan biasa, rentetan aksi massa sampai ke penyerangan terhadap markas kepolisian hingga terjadinya penjarahan rumah milik sejumlah pejabat. Media sosial sendiri juga turut andil berperan menyebar informasi propaganda sampai menghasut massa untuk berbuat kericuhan.
Catatan reporter Indozone di lapangan merangkum seluruh fakta hingga hoaks yang berterbangan ditengah isu demo tersebut. Meskipun tak bisa dipungkiri keselamatan dari para reporter itu juga terancam.
Massa demo terlibat kericuhan dengan polisi. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Aksi unjuk rasa ini diawali sejak 25 Agustus siang di depan Gedung DPR RI yang diikuti oleh sejumlah elemen masyarakat termasuk mahasiswa. Tuntutan berbagai macam mulai dari turunkan Prabowo-Gibran, bubarkan Kabinet Merah Putih dan DPR sampai muaknya massa atas tingkah joget-joget para anggota DPR RI saat sidang tahunan MPR.
Demo tersebut terus bergulir hingga 28 Agustus yang tentunya demo diwarnai aksi kericuhan. Ditengah kericuhan di kawasan Patal hingga DPR, seorang jurnalis dari Kantor Berita Nasional Antara dipukul oleh polisi saat sedang mengabadikan momen polisi mengamankan massa.
Baca juga: Kakorlantas Bekukan Sementara Penggunaan Sirine-Strobo Pasca Ada Gerakan Masyarakat
28 Agustus malam menjadi hari terakhir untuk seorang sopir ojol bernama Affan Kurniawan. Orderan makanan yang dia kirim malah membawa petaka.
Di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat malam, kepolisian tengah berupaya membubarkan aksi demo ricuh yang melebar. Polisi menembakan gas air dan dibalas timpukan batu hingga molotov oleh massa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan