Jumat, 29 MEI 2026 • 17:00 WIB

Pria Austria Perencana Serangan di Konser Taylor Swift Divonis 15 Tahun Penjara

Author

Taylor Swift. (Instagram/@taylorswift)

INDOZONE.ID - Seorang pria asal Austria yang merencanakan serangan teror di konser penyanyi pop dunia Taylor Swift, dijatuhi hukuman 15 tahun penjara oleh pengadilan Austria.

Pria berusia 21 tahun itu dinyatakan bersalah atas sejumlah pelanggaran yang sebagian besar terkait aksi terorisme. Sidang berlangsung di Kota Wiener Neustadt, Austria, pada Kamis 28 Mei 2026. 

Terdakwa yang diidentifikasi sebagai Beran A, ditangkap pada 7 Agustus 2024, sehari sebelum rangkaian konser Taylor Swift digelar di Wina. Sesuai aturan privasi Austria, nama belakang lengkapnya tidak dipublikasikan ke publik.

Akibat ancaman serangan tersebut, tiga konser Taylor Swift di ibu kota Austria akhirnya dibatalkan. Keputusan itu sempat memicu kekecewaan besar di kalangan penggemar. Taylor Swift kala itu menyebut pembatalan konser sebagai sesuatu yang “menghancurkan”.

Meski ribuan penggemar sempat berkumpul dan bernyanyi bersama di jalanan Wina sebagai bentuk solidaritas setelah konser dibatalkan, tidak ada penggemar Taylor Swift maupun sang penyanyi yang hadir dalam persidangan tersebut.

Baca juga: 3 Dampak Signifikan Ekonomi Singapura Setelah Taylor Swift Menggelar Konser 6 Hari

Mengaku Bersalah atas Rencana Serangan

Dalam persidangan, Beran A mengakui dakwaan terkait rencana serangan yang ia susun. Dakwaan tersebut sebenarnya membawa ancaman hukuman maksimum hingga 20 tahun penjara.

Saat memasuki ruang sidang, ia menutupi wajahnya menggunakan map besar agar tidak dikenali kamera media.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya menyesal,” ujar Beran A dalam pernyataan terakhirnya sebelum hakim membacakan putusan.

Pengadilan menyebut pria tersebut sempat mencoba membeli senjata ilegal, termasuk senapan mesin dan granat tangan, namun upaya itu gagal.

Ia juga diketahui mengikuti panduan dari video kelompok ISIS berjudul ‘Make a Bomb in the Kitchen of Your Mom’ untuk membuat bahan peledak jenis triacetone triperoxide (TATP) dalam jumlah kecil.

Baca juga: Sentil Donald Trump, Cuitan Taylor Swift dapat 'Likes' Terbanyak

Sempat Merencanakan Serangan di Timur Tengah

Selain kasus konser Taylor Swift, jaksa juga mengungkap Beran A pernah merencanakan aksi serangan lain bersama dua teman sekolahnya di beberapa kota di Timur Tengah pada awal 2024.

Beran A dan terdakwa lain bernama Arda K mengaku sempat pergi ke Dubai dan Istanbul dengan niat melakukan serangan. Akan tetapi, rencana tersebut tidak pernah benar-benar mereka jalankan.

Dalam sidang sebelumnya bulan lalu, Beran A mengaku sempat berkeliaran di Dubai pada Maret 2024 sambil mencari target penikaman. Akan tetapi, ia mengalami serangan panik ketika hendak melancarkan aksinya sehingga mengurungkan niat tersebut.

Setelah kembali ke Wina, ia memutuskan merancang serangan yang lebih besar dan akhirnya memilih konser Taylor Swift sebagai target.

Keterlibatan Tersangka Lain

Jaksa juga menuding kedua terdakwa memberikan dukungan moral kepada seorang pria ketiga yang ditangkap di Mekkah, Arab Saudi. Pria itu diduga menyerang seorang petugas keamanan di area Masjidil Haram yang hingga kini masih ditahan otoritas Saudi.

Namun, Beran A dan Arda K membantah telah membantu pria tersebut. Tim kuasa hukum mereka menegaskan, bahwa klien mereka tidak memberikan dukungan material maupun arahan terhadap aksi penyerangan itu.

Beran bukan seorang pemimpin. Dia juga bukan dalang ideologis,” kata pengacara Beran A, Anna Mair, dalam pembelaannya di pengadilan.

Meski demikian, juri tetap menyatakan Beran A bersalah atas hampir seluruh dakwaan yang diajukan. Ia hanya dibebaskan dari dua poin dakwaan dari total 15 tuduhan.

Pengadilan juga memvonis Arda K bersalah atas seluruh dakwaan dan menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara.

Konser Taylor Swift yang Berujung Ancaman Teror

Kasus ini sempat menjadi perhatian internasional karena melibatkan konser tur dunia Taylor Swift yang saat itu dipadati puluhan ribu penggemar.

Pihak keamanan Austria meningkatkan pengawasan ketat setelah mengungkap dugaan rencana serangan tersebut. Demi alasan keselamatan, seluruh jadwal konser di Wina akhirnya dibatalkan.

Insiden itu menjadi salah satu ancaman keamanan terbesar yang pernah dikaitkan dengan konser musik berskala internasional di Austria dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, aparat Austria masih menyelidiki kemungkinan adanya jaringan atau pihak lain yang terlibat dalam perencanaan serangan tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: M.entertain.naver.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU