INDOZONE.ID - Rusia kembali menggempur Ukraina dalam salah satu serangan terbesar, sejak perang berlangsung lebih dari empat tahun.
Serangan masif yang terjadi pada Minggu, (24/5/2026), menewaskan sedikitnya empat orang di ibu kota Ukraina, Kyiv, serta melukai lebih dari 100 warga lainnya.
Dalam serangan tersebut, Moskow juga mengerahkan rudal hipersonik Oreshnik, yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir, meski kali ini digunakan tanpa muatan nuklir.
Baca juga: Rusia Lancarkan Serangan Drone Terbesar ke Ukraina dalam 2 Hari, Puluhan Warga Tewas
Ledakan keras terdengar berkali-kali di berbagai wilayah Kyiv sepanjang malam. Warga panik berlarian mencari perlindungan ke stasiun bawah tanah saat rudal dan drone menghantam kota.
Ketika pagi tiba, petugas penyelamat terlihat berjibaku memadamkan api, dan mencari korban di antara puing-puing bangunan yang rusak parah.
Sejumlah fasilitas sipil ikut terdampak, mulai dari rumah tinggal, pusat perbelanjaan, museum, teater, sekolah hingga universitas.
Seorang warga Kyiv bernama Sofia Melnychenko, 21 tahun, mengaku sempat merasa aman saat berlindung di stasiun metro.
Namun situasi berubah mencekam ketika beberapa ledakan besar mengguncang area tersebut.
“Setelah ledakan keempat, langit-langit stasiun mulai runtuh. Anak-anak berteriak, semua orang panik. Itu malam yang sangat menakutkan,” ujarnya.
Angkatan Udara Ukraina menyebut Rusia meluncurkan sekitar 600 drone dan 90 rudal dalam serangan itu. Dari jumlah tersebut, Ukraina mengklaim, berhasil mencegat 549 drone dan 55 rudal.
Baca juga: Rusia Klaim AS Siap Negosiasikan Penyelesaian Konflik di Ukraina
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya telah mengancam akan melakukan pembalasan setelah serangan drone Ukraina di wilayah timur yang diduduki Rusia menewaskan 21 orang di sebuah sekolah kejuruan.
Militer Rusia kemudian mengonfirmasi penggunaan rudal Oreshnik untuk ketiga kalinya selama perang berlangsung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com