Senin, 11 MEI 2026 • 10:40 WIB

Korea Selatan Mulai Alami Kenaikan Angka Kelahiran di Tengah Ancaman Krisis Populasi

Author

Ilustrasi bayi. (Freepik/Holiak)

INDOZONE.ID - Setelah bertahun-tahun menghadapi penurunan angka kelahiran yang mengkhawatirkan, Korea Selatan akhirnya mulai melihat secercah harapan. 

Negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia tersebut kini mencatat peningkatan jumlah bayi lahir, meski masih dalam skala kecil. 

Fenomena ini muncul seiring semakin banyak pasangan muda yang mulai berani membangun keluarga di tengah tekanan ekonomi, biaya hidup tinggi, hingga ketidakpastian masa depan.

Pemerintah Korea Selatan sendiri telah menggelontorkan miliaran dolar untuk mendorong warganya memiliki anak. Mulai dari bantuan tunai, subsidi perawatan bayi, hingga pinjaman rumah berbunga rendah diberikan demi menekan dampak krisis populasi yang terus membayangi negara tersebut.

Baca juga: Hakim Korea Selatan yang Perberat Hukuman Mantan Ibu Negara Ditemukan Meninggal

Pasangan Muda Korea Selatan Mulai Berani Punya Anak

Kim Su-jin, perempuan berusia 32 tahun yang bekerja lepas di industri musik, menjadi salah satu dari sedikit warga Korea Selatan yang memutuskan untuk memiliki anak. 

Setelah empat tahun menikah, ia dan suaminya akhirnya menyambut kelahiran putri mereka pada Januari tahun lalu, meski sebelumnya sempat khawatir soal kondisi finansial.

Ia mengaku sempat memikirkan berbagai hal seperti biaya rumah, pendidikan, dan pekerjaan. Namun pada akhirnya, ia percaya bahwa kehadiran anak akan membawa kebahagiaan dalam hidup mereka.

Baca juga: Kim Jong Un Tegaskan Status Nuklir Korea Utara Tak Bisa Diubah, Ancam Korea Selatan

Korea Selatan Mulai Keluar dari Krisis Angka Kelahiran

Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Selatan memang mengalami penurunan angka kelahiran yang sangat tajam. Pada 2023, tingkat fertilitas negara itu bahkan menyentuh rekor terendah. Namun sejak saat itu, jumlah kelahiran bulanan perlahan mulai meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Data kementerian statistik Korea Selatan menunjukkan hampir 23 ribu bayi lahir pada Februari lalu. Angka tersebut menjadi yang tertinggi untuk bulan Februari dalam tujuh tahun terakhir. Kenaikan tahunan mencapai 13,6 persen, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1981.

Generasi Muda Korea Selatan Mulai Lebih Family Oriented

Peningkatan angka kelahiran ini juga sejalan dengan bertambahnya jumlah pernikahan sejak pertengahan 2022. Banyak pengamat menilai generasi muda Korea Selatan mulai memiliki pandangan yang lebih positif terhadap kehidupan berkeluarga.

Profesor ekonomi dari Seoul National University, Hong Sok-chul, menilai kebijakan pemerintah cukup efektif membantu pasangan muda. 

Menurutnya, pemerintah tidak memaksa masyarakat untuk menikah atau memiliki anak, melainkan berupaya menekan biaya langsung maupun tidak langsung agar keputusan membangun keluarga terasa lebih realistis.

Bantuan Pemerintah Dinilai Dorong Kenaikan Kelahiran

Berbagai bantuan pun diberikan pemerintah kepada pasangan yang memiliki anak. Kim Woo-jin, seorang pekerja kantoran berusia 33 tahun, mengatakan dukungan finansial dari negara cukup membantu mengurangi beban biaya kehamilan dan membesarkan anak.

Ia menerima bantuan sebesar dua juta won atau sekitar Rp23 juta saat anaknya lahir. Selain itu, ada voucher satu juta won untuk biaya persalinan, subsidi transportasi, hingga bantuan perawatan pasca melahirkan.

Pemerintah Korea Selatan juga memberikan tunjangan bulanan sebesar satu juta won selama tahun pertama kehidupan bayi. Kebijakan lain yang diterapkan meliputi cuti orang tua yang diperluas, subsidi program kesuburan, hingga pinjaman rumah berbunga rendah bagi keluarga muda.

Bahkan, sejumlah perusahaan swasta turut memberikan bonus besar bagi karyawan yang memiliki anak sebagai bentuk dukungan terhadap program peningkatan kelahiran.

Biaya Hidup dan Pendidikan Masih Jadi Kekhawatiran

Meski begitu, tidak semua pasangan merasa bantuan tersebut cukup menyelesaikan masalah. Kim Su-jin menilai persoalan memiliki anak di Korea Selatan jauh lebih kompleks dibanding sekadar bantuan uang.

Menurutnya, biaya les pendidikan yang mahal, kasus perundungan di sekolah, hingga ancaman kehilangan pekerjaan akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence masih menjadi sumber kekhawatiran besar bagi generasi muda.

Efek Pandemi Disebut Jadi Salah Satu Pemicu Baby Boom

Ahli demografi dari Seoul National University, Lee Sang-lim, juga menilai terlalu dini menyimpulkan bahwa kenaikan angka kelahiran saat ini sepenuhnya disebabkan kebijakan pemerintah terbaru. 

Sebab, beberapa program bantuan baru mulai berjalan pada awal 2024, sementara peningkatan kelahiran sudah terlihat kurang dari sembilan bulan setelahnya.

Ia menyebut kemungkinan besar peningkatan ini merupakan dampak gabungan dari kebijakan jangka panjang pemerintah serta pasangan yang sebelumnya menunda pernikahan dan memiliki anak selama pandemi COVID-19.

Angka Fertilitas Korea Selatan Masih Jauh dari Ideal

Tahun lalu, tingkat fertilitas Korea Selatan naik dari 0,75 menjadi 0,8 anak per perempuan. Meski mengalami peningkatan, angka tersebut masih jauh di bawah standar 2,1 yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan populasi.

Ada pula faktor lain yang dianggap memengaruhi kenaikan angka kelahiran. Salah satunya adalah banyaknya warga kelahiran awal 1990-an yang kini memasuki usia ideal untuk memiliki anak.

Selain itu, stigma terhadap memiliki anak di luar pernikahan juga mulai berkurang di kalangan generasi muda Korea Selatan. Meski demikian, jumlah kelahiran di luar nikah masih tergolong kecil, yakni sekitar 5,8 persen dari total kelahiran pada 2024.

Pakar Sebut Kenaikan Kelahiran Belum Tentu Bertahan Lama

Para ahli mengingatkan bahwa peningkatan ini belum tentu menjadi titik balik bagi krisis populasi Korea Selatan. Jika tidak diikuti dukungan kebijakan yang konsisten, angka kelahiran dikhawatirkan bisa kembali turun dalam beberapa tahun mendatang.

Profesor Hong menegaskan pemerintah tetap perlu memberikan dukungan agresif dan berkelanjutan. Menurutnya, kenaikan yang terjadi saat ini memang menjadi sinyal positif, tetapi masih belum cukup untuk memastikan populasi Korea Selatan tetap stabil dalam jangka panjang.

Dengan ini, kenaikan angka kelahiran di Korea Selatan memang membawa harapan baru di tengah ancaman krisis populasi yang selama ini membayangi negara tersebut. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: N.news.naver.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU