INDOZONE.ID - Gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran mulai berlaku, menghentikan 40 hari serangan AS-Israel ke Iran. Kesepakatan yang ditengahi Pakistan ini mencegah wilayah tersebut dari perang yang lebih luas.
Pengumuman itu disampaikan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di media sosial X. “Kedua pihak telah menunjukkan kebijaksanaan dan pengertian luar biasa,” tulis Sharif.
Iran juga mengonfirmasi akan mengizinkan pengiriman kapal melintasi Selat Hormuz selama dua pekan. Jalur penting untuk seperlima minyak dan gas dunia itu sempat ditutup Iran sebagai balasan atas perang AS-Israel yang dimulai 28 Februari lalu.
Ini Isi Kesepakatan yang Bocor ke Publik
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membenarkan klaim Trump tentang pembukaan Selat Hormuz. Ia menambahkan bahwa aktivitas di selat akan dilakukan dengan koordinasi angkatan bersenjata Iran.
Meski draf lengkap 10 poin belum dipublikasikan, juru bicara diplomatik Al Jazeera, James Bays, melaporkan isinya. Poin-poin tersebut antara lain komitmen fundamental non-agresi dari AS dan pengakuan atas program pengayaan nuklir Iran.
Iran juga menuntut pencabutan semua sanksi primer dan sekunder serta resolusi terhadap Iran di Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan Dewan Keamanan PBB. Poin lain termasuk penarikan pasukan tempur AS dari semua pangkalan di kawasan.
Yang menarik, Iran meminta kompensasi penuh atas kerusakan yang diderita selama perang. Pembayaran akan diamankan melalui pungutan pada kapal yang melewati Selat Hormuz. Iran juga meminta pembekuan semua aset dan properti Iran yang dibekukan di luar negeri.
Trump Klaim Program Nuklir Iran Akan Diurus
Presiden AS Donald Trump bersikukuh bahwa program nuklir Iran akan “diurus dengan sempurna” dalam kesepakatan damai. “Jika tidak, saya tidak akan menyetujuinya,” kata Trump kepada AFP.
Namun, dalam wawancara dengan Sky News, Trump memberi sinyal berbeda. Ia menyebut poin-poin yang bocor ke publik berbeda dengan yang sebenarnya dinegosiasikan.
“Itu poin yang sangat bagus, dan sebagian besar sudah dinegosiasikan sepenuhnya. Itu bukan tuntutan maksimalis yang diklaim Iran,” ujar Trump.
Ia juga memperingatkan bahwa jika negosiasi selanjutnya tidak berjalan baik, “kami akan kembali bertempur dengan sangat mudah.”
Sejak gencatan senjata diumumkan, Trump maupun pemerintahannya tidak menyebutkan poin-poin kunci seperti pencabutan sanksi atau penarikan pasukan AS dari kawasan. Washington juga tidak menyebut program rudal balistik Iran yang sebelumnya menjadi tuntutan besar.
Israel Setuju Gencatan Senjata dengan Iran, Tapi Lanjutkan Lawan Hizbullah
Israel mendukung gencatan senjata dengan Iran yang ditengahi Pakistan. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan gencatan ini tidak berlaku untuk pertempuran melawan Hizbullah di Lebanon.
Pernyataan Netanyahu bertentangan dengan klaim PM Pakistan yang mengatakan gencatan senjata mencakup penghentian serangan Israel ke Lebanon. Rabu pagi, tentara Israel terus melanjutkan serangan di Lebanon selatan.
Lebanon terseret ke dalam perang AS-Israel melawan Iran pada 2 Maret setelah Hizbullah meluncurkan serangan. Hizbullah menyerang sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada hari pertama perang, 28 Februari.
Otoritas Lebanon mencatat sedikitnya 1.497 orang tewas sejak perang meletus, termasuk 57 petugas kesehatan.
Baca juga: Amerika Serikat dan Iran Saling Klaim Kemenangan usai Gencatan Senjata
Negosiasi di Islamabad Jadi Penentu
Langkah selanjutnya adalah negosiasi di Islamabad pada Jumat (10/4/2026). Pejabat AS dan Iran diharapkan bertemu di bawah mediasi Pakistan.
“Saya dengan hangat menyambut gestur bijaksana ini,” kata PM Sharif. Ia mengundang delegasi kedua negara ke Islamabad untuk merundingkan kesepakatan konkret guna menyelesaikan semua perselisihan.
Ahli Iran, Trita Parsi, mengatakan pembicaraan potensial di Islamabad bisa saja gagal, “tapi medannya telah bergeser”. Menurutnya, kegagalan Trump menggunakan kekuatan telah menumpulkan kredibilitas ancaman militer AS.
“Washington masih bisa mengacungkan pedang. Tapi setelah perang yang gagal, ancaman seperti itu terdengar hampa,” ujar Parsi. “AS tidak lagi dalam posisi mendikte persyaratan. Kesepakatan apa pun harus didasarkan pada kompromi tulus.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera.com