Selasa, 07 APRIL 2026 • 10:30 WIB

Serangan Udara Israel ke Dekat Sekolah di Gaza Tewaskan 10 Warga Palestina

Author

Israel kembali serang Gaza. (REUTERS/Stringer)

INDOZONE.ID - Serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 10 warga Palestina pada Senin (6/4/2026). 

Peristiwa ini terjadi di dekat sebuah sekolah yang menampung pengungsi di Gaza Tengah.

Korban tewas akibat serangan udara Israel kali ini cukup mengenaskan. Puluhan lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka.

Berdasarkan keterangan petugas kesehatan dan warga setempat, pengeboman terjadi saat bentrok antara warga Palestina dengan milisi pro-Israel. 

Milisi tersebut diduga menyerang sekolah untuk menculik sejumlah orang.

Baca juga: Serangan Israel Kembali Makan Korban, Kini Kepala Intelijen IRGC Majid Khademi Dilaporkan Tewas

Rumah Sakit Al-Aqsa Laporkan Puluhan Korban

Rumah Sakit Martir Al-Aqsa langsung merilis pernyataan resmi terkait kejadian ini. 

Pihak rumah sakit menyebut sedikitnya 10 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka.

Enam dari korban luka dilaporkan dalam kondisi kritis. Mereka mendapatkan perawatan intensif pasca serangan udara Israel yang mematikan itu.

Para saksi mata menambahkan, drone Israel menembakkan dua rudal di tengah bentrokan. Akibatnya, korban jiwa dan luka-luka tidak dapat dihindari.

Baca juga: Pilot F-15E AS Dievakuasi ke Kuwait, Operasi Penyelamatan Diwarnai Beda Klaim AS dan Iran

Warga Berusaha Bertahan, Tapi Jadi Sasaran

Ahmed al-Maghazi, seorang warga setempat, menceritakan suasana mencekam saat serangan terjadi. 

"Warga mencoba mempertahankan rumah mereka, tapi pasukan pendudukan langsung menarget mereka," ujarnya kepada Reuters.

Kesaksian ini menggambarkan betapa sulitnya kondisi warga Gaza saat ini. Mereka hidup dalam ketakutan terus-menerus di tengah konflik berkepanjangan.

Di sisi lain, pemimpin milisi pro-Israel mengklaim telah membunuh lima anggota Hamas. Klaim ini disampaikan dalam sebuah video yang beredar kemudian.

Baca juga: Indonesia Dorong PBB Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Usai Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Namun, Al Jazeera tidak bisa memverifikasi secara independen pernyataan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, Hamas belum memberikan komentar resmi.

Zona Aman Palsu di Kamp Pengungsi Maghazi

Kamp pengungsi Maghazi sebelumnya ditetapkan militer Israel sebagai zona aman. Padahal, menurut UNRWA, kamp ini dulunya adalah salah satu kamp pengungsi terkecil di Gaza.

Awalnya hanya dihuni sekitar 30.000 jiwa. Namun dalam beberapa bulan pertama perang, populasinya meningkat lebih dari tiga kali lipat karena gelombang pengungsi.

Ironisnya, status zona aman tidak menjamin keselamatan warga. Militer Israel justru beberapa kali melancarkan serangan mematikan di kawasan ini.

Baca juga: Untuk Independen Tanpa AS, Presiden Prancis Ajak Sejumlah Negara Bersatu

Salah satu serangan paling mematikan terjadi pada Desember 2023. Lebih dari 100 orang tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak yang mengungsi.

Gencatan Senjata Rapuh, Serangan Terus Berlanjut

Kesepakatan gencatan senjata yang rapuh memang sudah tercapai sejak Oktober lalu. Namun faktanya, Israel terus melancarkan serangan di berbagai lokasi di Jalur Gaza.

Kamp Maghazi menjadi salah satu bukti bahwa gencatan senjata tak menjamin keamanan. Serangan masih terus terjadi dengan korban yang tak kunjung berhenti berjatuhan.

Sebelum insiden ini, seorang staf Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga tewas di Gaza. Kendaraan mereka ditembaki tentara Israel, menyebabkan beberapa lainnya terluka.

Baca juga: Trump Bikin Kontroversi Lagi, Mau Ambil Minyak Iran dan Hasilkan Banyak Uang

Informasi itu dibenarkan oleh berbagai sumber, termasuk koresponden Al Jazeera di lapangan. Kondisi ini menunjukkan betapa berbahayanya situasi kemanusiaan di Gaza saat ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Al Jazeera

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU