INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan Kuba bisa jadi target militer berikutnya setelah Iran.
Dalam pernyataannya, Trump menyinggung apa yang ia sebut sebagai keberhasilan operasi militer AS di Venezuela dan Iran.
“Saya membangun militer yang hebat. Saya bilang, ‘kita tidak akan pernah menggunakannya,’ tapi kadang kita memang harus menggunakannya. Dan Kuba berikutnya, omong-omong,” ujar Trump dalam acara Future Investment Initiative, sebuah konferensi bisnis di Arab Saudi, Jumat lalu.
Namun tak lama setelah itu, ia seperti mencoba menarik kembali ucapannya.
Baca juga: 9 Juta Orang dari Seluruh Negara Bagian Turun dalam Demonstrasi "No Kings" Memprotes Trump
“Tapi anggap saja saya tidak mengatakan itu. Tolong, anggap saja tidak. Media, mohon abaikan pernyataan itu,” tambahnya.
Respons Kuba
Menanggapi pernyataan tersebut, pemerintah Kuba menyatakan siap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Kuba tak akan mudah menyerah atas tindakan militer AS.
Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio, mengatakan pihaknya tengah mempersiapkan diri menghadapi potensi agresi militer dari Amerika Serikat.
“Militer kami selalu siap, dan saat ini juga tengah bersiap menghadapi kemungkinan agresi militer (AS). Kita tidak boleh naif dengan situasi global saat ini,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Meski demikian, ia berharap skenario tersebut tidak benar-benar terjadi, karena menurutnya tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindakan tersebut.
“Kenapa pemerintah Amerika Serikat harus memaksa negaranya melakukan aksi militer terhadap negara tetangga seperti Kuba?” katanya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga ikut menyoroti kondisi dalam negeri Kuba.
Ia menyebut bahwa kepemimpinan Kuba tidak mampu mengatasi krisis listrik yang melanda negara tersebut, dan menilai bahwa perubahan besar diperlukan.
“Kuba memiliki ekonomi yang tidak berjalan, serta sistem politik dan pemerintahan yang tidak mampu memperbaikinya. Jadi, perubahan besar harus dilakukan,” ujar Rubio kepada wartawan di Gedung Putih.
Baca juga: Trump Jadwalkan Kunjungan ke China pada Mei, Bertemu Xi Jinping Usai Penundaan akibat Perang Iran
Hubungan AS-Kuba Masih Memanas
Hubungan antara Amerika Serikat dan Kuba memang sudah lama tidak harmonis, bahkan berlangsung selama lebih dari 65 tahun.
Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintahan Trump juga disebut semakin meningkatkan tekanan terhadap Kuba, yang membuat situasi kembali memanas dan menjadi perhatian dunia internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: TRT World