Minggu, 22 MARET 2026 • 20:42 WIB

Kuba Kembali Gelap Gulita, Pemadaman Listrik Nasional Terjadi Dua Kali dalam Sepekan

Author

Seorang warga Kuba mengisi botol dengan air di tengah runtuhnya jaringan listrik nasional untuk kedua kalinya dalam sepekan pada 21 Maret 2026, di tengah blokade minyak yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. (Reuters/Norlys Perez)

INDOZONE.ID - Kuba kembali mengalami pemadaman listrik besar-besaran untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari sepekan. 

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (21/3/2026), setelah jaringan listrik nasional kembali mengalami kegagalan akibat infrastruktur yang sudah tua serta dampak blokade minyak dari Amerika Serikat.

Saat malam tiba, sebagian besar wilayah ibu kota Havana tenggelam dalam kegelapan. Warga terpaksa mengandalkan cahaya dari ponsel atau senter untuk beraktivitas.

Kondisi ini terjadi hanya lima hari setelah pemadaman sebelumnya, menambah beban kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di kawasan wisata kota tua, beberapa restoran masih bisa beroperasi berkat bantuan generator.

Musik tetap dimainkan untuk menghibur pengunjung, tetapi pemadaman listrik yang terus berulang membuat situasi semakin sulit bagi warga.

Ini sudah tidak tertahankan lagi,” ujar Ofelia Oliva (64), seorang warga Havana. Ia mengaku kelelahan dengan kondisi yang terus berulang, bahkan sampai membatalkan rencananya untuk mengunjungi anaknya.

Baca juga: Ratusan Ribu Warga Dievakuasi Saat Badai Melissa Hantam Kuba Timur

Gangguan Sistem Listrik Picu Efek Berantai

Perusahaan listrik milik negara menjelaskan bahwa pemadaman total terjadi akibat kerusakan pada salah satu unit pembangkit listrik tenaga termal.

Gangguan tersebut memicu efek berantai yang menyebabkan seluruh sistem listrik nasional terputus.

Sebagai langkah darurat, pemerintah mengaktifkan jaringan listrik skala kecil (micro-grid) untuk memastikan fasilitas penting seperti rumah sakit dan instalasi pengolahan air tetap berfungsi.

Namun bagi masyarakat umum, kondisi ini semakin memprihatinkan.

Saya bertanya-tanya apakah kami akan hidup seperti ini terus. Tidak mungkin hidup dalam kondisi seperti ini,” kata Nilo Lopez (36), seorang sopir taksi.

Baca juga: AS Longgarkan Sanksi Minyak Rusia 30 Hari, Kecualikan Kuba dan Korea Utara

Infrastruktur Tua dan Krisis Energi

Sistem kelistrikan Kuba sangat bergantung pada delapan pembangkit listrik tenaga termal yang sebagian besar sudah beroperasi lebih dari 40 tahun.

Kondisi ini membuat pembangkit sering mengalami kerusakan atau harus dihentikan sementara untuk perawatan.

Akibatnya, pemadaman listrik menjadi bagian dari keseharian. Di Havana, warga bisa mengalami listrik padam hingga 15 jam per hari.

Sementara di daerah lain, pemadaman bahkan bisa berlangsung lebih dari 40 jam.

Situasi semakin memburuk sejak terganggunya pasokan minyak. Kuba sebelumnya bergantung pada Venezuela sebagai pemasok utama energi.

Namun, kondisi politik terbaru membuat pasokan tersebut tersendat.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif terhadap negara-negara yang menjual minyak ke Kuba.

Sejak 9 Januari, tidak ada lagi impor minyak yang masuk ke negara tersebut.

Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor listrik, tetapi juga sektor transportasi dan pariwisata. Beberapa maskapai bahkan terpaksa mengurangi penerbangan ke Kuba.

Bantuan Internasional Mulai Berdatangan

Di tengah krisis yang semakin dalam, bantuan internasional mulai tiba di Havana pekan ini.

Bantuan tersebut mencakup pasokan medis, makanan, air bersih, hingga panel surya untuk membantu mengatasi kekurangan energi.

Namun demikian, situasi politik turut memanaskan kondisi. Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk melihat perubahan rezim di Kuba.

Saya yakin akan mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba. Entah membebaskannya atau mengambilnya, saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, yang menegaskan bahwa negaranya akan memberikan perlawanan terhadap segala bentuk agresi dari luar.

Ketegangan Sosial Meningkat

Krisis listrik yang berkepanjangan, ditambah kelangkaan makanan dan obat-obatan, mulai memicu ketegangan di masyarakat.

Pekan lalu, sekelompok demonstran bahkan merusak kantor Partai Komunis di salah satu provinsi.

Meski demikian, sebagian warga memilih tetap bertahan dan menjalani aktivitas seperti biasa. Meiven Rodriguez (40), misalnya, tetap berjualan di tokonya dengan bantuan cahaya dari ponsel.

"Kalau tidak terus bekerja, kami tidak akan bisa membawa uang pulang,” katanya.

Di sisi lain, beberapa warga mencoba mengisi waktu dengan aktivitas sederhana, seperti memancing di tepi laut yang gelap. “Kalau di rumah juga tidak ada yang bisa dilakukan,” ujar Leonsio Suarez (50).

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Di tengah krisis energi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, laporan pelacakan maritim menyebutkan bahwa dua kapal tanker yang membawa minyak dan diesel dari Rusia kemungkinan sedang menuju Kuba. Namun, status pengiriman tersebut masih belum jelas.

Bagi jutaan warga Kuba, harapan kini bergantung pada pemulihan pasokan energi dan stabilitas politik. Sementara itu, mereka harus terus beradaptasi dengan kondisi yang serba terbatas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU