Minggu, 22 MARET 2026 • 16:40 WIB

Iran Ancam Serang Infrastruktur AS dan Israel, Ketegangan di Timur Tengah Kian Memanas

Author

Ilustrasi rudal iran. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)

INDOZONE.ID - Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat setelah Iran melontarkan ancaman keras terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel. Teheran menyatakan siap menargetkan seluruh infrastruktur strategis kedua pihak di kawasan jika fasilitas miliknya diserang.

Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan langkah serupa. 

“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang, seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik Amerika Serikat dan rezim (Israel) di kawasan akan menjadi sasaran,” demikian pernyataannya, seperti dikutip kantor berita Fars, Minggu (22/3/2026).

Ancaman ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran. Ia memberikan waktu 48 jam agar Selat Hormuz kembali dibuka, atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik Iran, dimulai dari fasilitas terbesar.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan negaranya tidak akan menahan diri jika serangan benar-benar terjadi. Ia memperingatkan Iran akan bertindak “tanpa pengekangan” untuk melindungi kepentingannya.

Baca juga: Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran Jika Selat Hormuz Tetap Ditutup

Situasi semakin memanas karena gangguan di Selat Hormuz sejak awal Maret, yang berdampak pada lonjakan harga minyak global. Jalur ini merupakan salah satu rute vital perdagangan energi dunia.

Di sisi lain, Iran juga menuding AS dan Israel mulai menargetkan kapal sipil di Teluk Persia. Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk eskalasi baru di tengah konflik yang berlangsung.

“AS dan Israel, karena terus mengalami kekalahan di medan perang dan tidak mampu menghadapi serangan angkatan bersenjata Iran, mulai menyerang kapal sipil dan penumpang di Teluk Persia,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa jika serangan tersebut berlanjut, Iran akan memberikan respons tegas. “Jika AS dan Israel melanjutkan serangan keji tersebut, Iran akan mengambil tindakan balasan serius,” katanya.

Baca juga: Donald Trump Pertimbangkan Akhiri Operasi Militer Iran, AS Longgarkan Sanksi Minyak

Konflik ini sendiri bermula pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa dari kalangan sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta target militer AS di Timur Tengah.

Serangan awal tersebut sempat diklaim sebagai langkah pencegahan terhadap program nuklir Iran. Namun, belakangan AS dan Israel menyatakan tujuan operasi itu juga mencakup upaya perubahan rezim di Iran.

Menurut laporan, rangkaian serangan sejak akhir Februari telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Dengan saling ancam yang terus meningkat, situasi di kawasan kini berada dalam tekanan tinggi dan berpotensi memicu konflik yang lebih luas jika tidak segera mereda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA, Sputnik

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU