Jumat, 20 MARET 2026 • 17:30 WIB

Perang Iran-Israel Makin Panas: Serangan Baru Saling Balas, Krisis Energi Global Menganga

Author

Ilustrasi kilang minyak terbakar. (Freepik/pikepicture)

INDOZONE.ID - Konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang lebih berbahana. 

Israel dan Iran kembali melancarkan serangan pada Jumat (20/3/2026), sehari setelah Tehran menghantam kilang minyak Israel dan peringatan keras dari Presiden AS Donald Trump agar Israel tidak mengulangi serangan terhadap ladang gas lepas pantai yang menjadi milik bersama Iran dan Qatar.

Militer Israel mengonfirmasi telah menyerang Tehran, menargetkan "infrastruktur rezim teror Iran". Sebagai balasan, Iran meluncurkan rentetan rudal ke Israel. 

Sirine peringatan serangan udara berbunyi di Tel Aviv, sementara ledakan dari interceptor pertahanan udara menggema di seluruh kota.

Baca juga: Kilang Minyak Israel Kena Rudal Iran, Infrastruktur Penting Rusak

Krisis Energi Global Kian Parah

Eskalasi terbaru ini terjadi setelah beberapa hari Iran menggempur infrastruktur energi regional, yang telah mengacaukan pasar global. 

Harga energi melonjak Kamis lalu setelah Iran merespons serangan Israel ke ladang gas besar dengan menghantam Ras Laffan Industrial City di Qatar, fasilitas yang memproses sekitar seperlima pasokan gas alam cair (LNG) dunia. 

Kerusakan yang ditimbulkan diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Tak hanya itu, pelabuhan utama Saudi di Laut Merah juga diserang Kamis lalu. 

Baca juga: Sempat Lontarkan Kritik karena Enggan Bantu AS, Donald Trump Sebut NATO Kini Lebih Baik

Untungnya, Arab Saudi masih bisa mengalihkan beberapa ekspornya untuk menghindari penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Di tengah kekacauan ini, harga minyak justru turun pada Jumat setelah negara-negara Barat dan Jepang menawarkan bantuan untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta langkah AS untuk meningkatkan produksi minyaknya.

Trump Minta Israel Berhenti, Netanyahu Ngotot

Presiden AS yang tengah menghadapi tekanan politik akibat kenaikan harga bahan bakar di kalangan pemilih intinya, secara terbuka meminta Israel tidak mengulangi serangan ke infrastruktur energi. 

Baca juga: AS Dakwa Tiga Orang atas Konspirasi Pengiriman Teknologi AI Senilai Miliaran Dolar ke Cina

"Saya bilang padanya, 'Jangan lakukan itu', dan dia tidak akan melakukannya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Kamis.

Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemudian menegaskan bahwa Israel bertindak sendiri dalam membom ladang gas South Pars Iran. 

Menurutnya, Iran sedang "dihancurkan" dan tidak lagi memiliki kemampuan memperkaya uranium atau membuat rudal balistik. Tapi untuk mencapai revolusi di Iran, diperlukan "komponen darat", ujarnya tanpa merinci.

Kesenjangan Strategi Sekutu

Serangan Israel ke ladang gas South Pars, yang menurut Trump tidak diketahui AS sebelumnya, mengindikasikan adanya kesenjangan koordinasi strategi antara kedua sekutu ini. 

Baca juga: Desak Gencatan, Pemimpin Eropa Minta Moratorium Serangan Fasilitas Energi di Timur Tengah

Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, bahkan mengakui perbedaan tujuan: "Pemerintah Israel fokus melumpuhkan kepemimpinan Iran. 

Presiden mengatakan tujuannya adalah menghancurkan kemampuan peluncuran rudal balistik Iran, kemampuan produksi rudal, dan angkatan laut mereka."

Ancaman Iran: Serangan Balasan Tak Akan Berhenti

Juru bicara militer Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi Iran telah membawa konflik ke "tahap baru". 

"Jika serangan (terhadap fasilitas energi Iran) terjadi lagi, serangan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi Anda dan sekutu Anda tidak akan berhenti sampai hancur total," ancamnya.

Baca juga: Rusia Serukan Semua Pihak untuk Hentikan Perang di Teluk, Tawarkan Mediasi

Sementara itu, Qatar harus menanggung dampak terberat. QatarEnergy mengumumkan bahwa serangan Iran telah melumpuhkan seperenam kapasitas ekspor LNG mereka, bernilai $20 miliar per tahun. 

Mereka terpaksa menyatakan force majeure pada ekspor dan melakukan perbaikan yang diperkirakan memakan waktu tiga hingga lima tahun.

Dengan konflik yang tak kunjung reda, ancaman guncangan minyak global semakin nyata setiap harinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU