INDOZONE.ID - Korea Utara kembali menunjukkan kekuatan militernya dengan meluncurkan lebih dari sepuluh rudal balistik ke arah laut pada Sabtu (14/3/2026).
Peluncuran tersebut terjadi di tengah berlangsungnya latihan militer gabungan antara Amerika Serikat dan Korea Selatan, yang setiap tahun digelar untuk meningkatkan kesiapan pertahanan kedua negara.
Peluncuran Rudal Terjadi di Tengah Ketegangan Kawasan
Militer Korea Selatan menyatakan bahwa rudal-rudal tersebut ditembakkan dari wilayah sekitar ibu kota Pyongyang pada pukul 13.20 waktu setempat. Arah peluncuran mengarah ke perairan di lepas pantai timur Korea Utara.
Badan penjaga pantai Jepang juga mendeteksi objek yang diduga sebagai rudal balistik jatuh ke laut. Berdasarkan laporan media publik Jepang, NHK, rudal itu diperkirakan jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang sehingga tidak menimbulkan ancaman langsung bagi wilayah negara tersebut.
Aksi peluncuran ini menambah daftar panjang uji coba senjata yang dilakukan Korea Utara selama lebih dari dua dekade terakhir.
Negara tersebut terus mengembangkan berbagai jenis rudal, baik balistik maupun jelajah, yang diyakini dapat digunakan untuk mengantarkan hulu ledak nuklir.
Baca juga: Korea Utara Tembakkan Rudal Balistik ke Arah Laut Jepang
Program Senjata Korea Utara dan Sanksi Internasional
Sejak 2006, Korea Utara telah dikenai berbagai sanksi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akibat program senjata nuklir dan rudalnya. Sanksi tersebut berdampak besar pada sektor perdagangan, ekonomi, hingga kemampuan militernya.
Meski demikian, pemerintah di Pyongyang tetap melanjutkan pengembangan senjata strategisnya. Mereka berulang kali menegaskan bahwa program militer tersebut diperlukan untuk menjaga keamanan nasional dan menghadapi tekanan dari negara-negara Barat.
Baca juga: Presiden Korea Selatan Peringatkan Risiko Bentrokan Tak Sengaja dengan Korut
Latihan Militer Gabungan AS-Korea Selatan
Pada pekan yang sama, Amerika Serikat dan Korea Selatan juga memulai latihan militer tahunan berskala besar di wilayah Korea Selatan. Kedua negara menyatakan latihan tersebut bersifat defensif dan bertujuan meningkatkan kesiapan menghadapi potensi ancaman dari Korea Utara.
Dalam salah satu skenario latihan pada Sabtu, ratusan tentara AS dan Korea Selatan melakukan latihan menyeberangi sungai menggunakan berbagai peralatan militer berat. Di antaranya termasuk tank dan kendaraan tempur lapis baja.
Latihan tersebut diawasi langsung oleh komandan pasukan gabungan kedua negara. Saat ini, Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 personel militer di Korea Selatan, termasuk skuadron pesawat tempur yang berfungsi memperkuat pertahanan sekutu di kawasan Asia Timur.
Upaya Membuka Dialog dengan Pyongyang
Di tengah meningkatnya aktivitas militer, upaya diplomasi juga kembali dibicarakan. Pada Kamis sebelumnya, Perdana Menteri Korea Selatan, Kim Min-seok, bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington.
Pertemuan tersebut membahas kemungkinan membuka kembali jalur dialog dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. Menurut Kim Min-seok, Presiden Trump masih tertarik untuk mencari peluang perundingan langsung dengan Pyongyang jika situasi memungkinkan.
Upaya diplomasi ini dinilai penting untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat di Semenanjung Korea, terutama di tengah rangkaian uji coba rudal yang terus dilakukan Korea Utara.
Ketegangan di Semenanjung Korea Masih Berlanjut
Peluncuran rudal terbaru ini menunjukkan bahwa situasi keamanan di kawasan Asia Timur masih jauh dari stabil. Di satu sisi, Korea Utara terus mengembangkan kemampuan militernya.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Korea Selatan memperkuat kerja sama pertahanan mereka melalui latihan militer rutin.
Banyak pihak berharap dialog dapat kembali dibuka agar ketegangan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar,
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: N.news.naver.com