INDOZONE.ID - Pemerintah Amerika Serikat menyatakan, tidak akan menargetkan sektor energi Iran meskipun konflik militer antara Israel dan Iran terus berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, pada Minggu (8/3/2026).
Menurut Wright, industri minyak dan gas Iran tidak akan menjadi sasaran serangan Amerika Serikat dalam konflik yang saat ini melibatkan Israel melawan Republik Islam tersebut.
Ia menegaskan, Washington tidak memiliki rencana untuk menyerang fasilitas energi Iran, termasuk sektor minyak dan gas alam.
Baca juga: Trump Peringatkan Pemimpin Baru Iran Tidak akan Bertahan Tanpa Persetujuan AS
AS Tidak Menargetkan Infrastruktur Energi Iran
Dalam wawancara dengan media Amerika, Wright menjelaskan, kebijakan pemerintah AS adalah menghindari serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Ia menegaskan bahwa target operasi militer bukanlah fasilitas energi yang menjadi tulang punggung perekonomian negara tersebut.
Wright juga menyebut bahwa beberapa serangan yang terjadi sebelumnya di sekitar ibu kota Iran merupakan operasi militer Israel yang menargetkan fasilitas bahan bakar berskala lokal, bukan infrastruktur energi strategis milik negara.
Serangan tersebut dilaporkan terjadi pada Sabtu di sejumlah lokasi penyimpanan minyak di sekitar Teheran.
Insiden itu memicu kebakaran besar dan menjadi salah satu serangan pertama yang dilaporkan sejak konflik militer antara Israel dan Iran meletus pada akhir pekan sebelumnya.
Menurut Wright, fasilitas yang diserang kemungkinan merupakan depot bahan bakar yang digunakan untuk kebutuhan lokal, seperti pengisian kendaraan, bukan bagian dari jaringan produksi energi nasional Iran.
Baca juga: Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Teluk, Janji Hentikan Serangan dengan Syarat
Gangguan Energi Diperkirakan Hanya Sementara
Meski konflik militer memicu kekhawatiran pasar energi global, Wright memperkirakan gangguan terhadap industri minyak dan gas hanya akan berlangsung dalam waktu singkat.
Ia mengatakan, skenario terburuk sekalipun kemungkinan hanya berlangsung beberapa minggu dan tidak akan berlarut-larut hingga berbulan-bulan.
Pernyataan ini disampaikan di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz Hampir Lumpuh
Konflik antara Israel dan Iran juga berdampak besar pada jalur distribusi energi dunia. Ketegangan di kawasan tersebut, menyebabkan aktivitas pelayaran di Strait of Hormuz hampir terhenti.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia dan hampir 20 persen gas alam cair biasanya melewati jalur laut sempit ini.
Ketika aktivitas pengiriman terganggu, pasar energi global langsung bereaksi. Kekhawatiran terhadap pasokan energi membuat harga minyak melonjak tajam dalam waktu singkat.
Harga Minyak Melonjak Tajam
Lonjakan harga minyak terlihat dari pergerakan harga minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate.
Harga minyak jenis tersebut naik sekitar 12 persen hanya dalam satu hari perdagangan pada Jumat lalu. Dalam kurun waktu sepekan, kenaikannya bahkan mencapai sekitar 36 persen.
Meski demikian, Wright menilai harga minyak kemungkinan tidak akan terus melonjak terlalu tinggi. Ia menilai pasokan energi global masih cukup stabil.
Menurutnya, kawasan Belahan Barat dunia memiliki pasokan energi yang memadai sehingga tidak terjadi kekurangan energi secara signifikan.
Harga Bahan Bakar di AS Ikut Naik
Dampak konflik ini juga mulai terasa langsung bagi masyarakat Amerika Serikat. Data dari organisasi otomotif AAA menunjukkan harga bensin di SPBU Amerika naik sekitar 16 persen hanya dalam waktu satu minggu.
Harga solar bahkan mengalami kenaikan lebih tinggi, yaitu sekitar 22 persen dalam periode yang sama.
Sementara itu, situs pemantau harga bahan bakar GasBuddy melaporkan bahwa harga solar di Amerika kini mencapai level tertinggi sejak Februari 2023.
Solar merupakan bahan bakar utama bagi sektor transportasi barang, khususnya truk logistik yang menjadi tulang punggung distribusi di negara tersebut.
Faktor Politik Jelang Pemilu
Kenaikan harga bahan bakar menjadi perhatian serius di Amerika Serikat karena dapat memengaruhi kondisi ekonomi domestik.
Harga bensin sering kali menjadi isu sensitif bagi masyarakat, terutama di negara yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi.
Selain itu, situasi ini juga berpotensi memengaruhi dinamika politik menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintahan Donald Trump, yang sebelumnya telah menghadapi tingkat persetujuan publik yang relatif rendah sebelum konflik ini terjadi.
AS Siapkan Perlindungan Kapal Tanker
Untuk mengatasi gangguan pengiriman energi, pemerintah Amerika Serikat juga mulai berkomunikasi dengan perusahaan pelayaran yang ingin menarik kapal mereka dari kawasan Teluk.
Wright menyebutkan, pengiriman awal kemungkinan akan mendapatkan perlindungan langsung dari militer Amerika Serikat saat melintasi Selat Hormuz.
Langkah ini diharapkan dapat memastikan jalur perdagangan energi kembali beroperasi normal dalam waktu relatif singkat.
Produksi Minyak Iran dan Sanksi Internasional
Menurut data dari US Energy Information Administration, Iran menyumbang sekitar empat persen produksi minyak dunia.
Meskipun industri minyaknya berada di bawah sanksi internasional, sebagian produksi minyak Iran masih diekspor ke pasar global. Data industri menunjukkan bahwa salah satu pembeli utama minyak Iran adalah China.
Di tengah lonjakan harga energi global, pemerintah Amerika juga mempertimbangkan beberapa langkah untuk menstabilkan pasar.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya menyatakan, pemerintah sedang mempertimbangkan kemungkinan melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia.
Bahkan, Washington sempat memberikan izin sementara kepada India untuk membeli minyak dari Russia.
Mekanisme Perlindungan Risiko Energi
Selain itu, lembaga keuangan pemerintah Amerika, US International Development Finance Corporation, juga mengumumkan pembentukan skema reasuransi hingga 20 miliar dolar AS.
Skema ini bertujuan menanggung risiko pelayaran kapal yang melewati Selat Hormuz, selama ketegangan militer masih berlangsung.
Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi perusahaan pelayaran, dan membantu menjaga stabilitas distribusi energi global.
Ketegangan Global Masih Dipantau
Meskipun situasi di Timur Tengah masih memanas, pemerintah Amerika menilai konflik ini tidak akan berkembang menjadi perang jangka panjang yang mengganggu pasokan energi dunia secara permanen.
Wright menegaskan, sebagian besar lonjakan harga energi saat ini lebih dipicu oleh kekhawatiran pasar, dan reaksi emosional terhadap situasi geopolitik yang belum pasti.
Namun demikian, perkembangan konflik antara Israel dan Iran tetap menjadi perhatian utama komunitas internasional, karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, khususnya sektor energi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nytimes.com