INDOZONE.ID - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah rangkaian serangan militer yang melibatkan beberapa negara memperluas eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Situasi makin memanas ini tak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga menyeret warga asing yang berada di wilayah terdampak.
Pemerintah China pun angkat suara, menyerukan penghentian operasi militer dan mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi setelah seorang warganya dilaporkan tewas di Teheran.
Baca juga: Ali Khamenei Tewas, Begini Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran
China Desak Penghentian Operasi Militer
Pemerintah China, pada Senin 2 Maret 2026, secara resmi meminta agar seluruh pihak yang terlibat segera menghentikan aksi militer di Timur Tengah.
Seruan ini disampaikan setelah konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran serta Lebanon memasuki hari ketiga dan menunjukkan tanda-tanda meluas ke negara-negara tetangga.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan prioritas utama saat ini adalah penghentian segera seluruh operasi militer.
Menurutnya, eskalasi konflik berisiko memicu ketidakstabilan kawasan yang lebih luas dan menimbulkan dampak kemanusiaan yang serius.
Beijing juga menekankan pentingnya dialog dan negosiasi sebagai satu-satunya jalan keluar yang realistis untuk meredakan ketegangan.
Pemerintah China menilai pendekatan militer hanya akan memperparah situasi dan memperbesar risiko korban jiwa.
Baca juga: Donald Trump Tegaskan AS akan Serang Iran hingga Empat Pekan ke Depan
Seorang Warga China Tewas di Teheran
Dalam perkembangan yang mengkhawatirkan, satu warga negara China dilaporkan meninggal dunia akibat serangan yang terjadi di Teheran. Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat di wilayah Iran.
Meski tidak merinci identitas korban maupun kronologi lengkap kejadian, pihak Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa Kedutaan Besar China di Iran telah diperintahkan untuk memberikan bantuan penuh kepada keluarga korban.
Pemerintah berjanji akan memastikan seluruh prosedur perlindungan dan pendampingan berjalan sesuai ketentuan.
Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah berdampak luas, termasuk terhadap warga negara asing yang berada di wilayah tersebut.
Upaya Diplomatik di Dewan Keamanan PBB
Selain menyerukan gencatan senjata, China bersama Rusia juga mendorong agar Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera menggelar pertemuan darurat.
Langkah ini dianggap penting untuk membahas situasi yang berkembang dan mencari solusi kolektif guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Beijing menyatakan tidak menerima pemberitahuan sebelumnya terkait aksi militer yang dilakukan Amerika Serikat. Hal ini memperkuat posisi China yang menginginkan transparansi dan koordinasi internasional dalam setiap langkah yang berpotensi mengganggu stabilitas global.
Seruan untuk pertemuan darurat di Dewan Keamanan mencerminkan upaya China menempatkan diplomasi multilateral sebagai mekanisme utama penyelesaian konflik.
Peringatan Perjalanan dan Evakuasi Warga China
Seiring memburuknya situasi keamanan, pemerintah China sebelumnya telah mengeluarkan imbauan kepada warganya agar menunda perjalanan ke Iran.
Peringatan ini diterbitkan dengan mempertimbangkan risiko keamanan yang semakin tinggi akibat meningkatnya intensitas serangan.
Hingga Senin, lebih dari 3.000 warga China dilaporkan telah meninggalkan Iran. Evakuasi tersebut dilakukan sebagai langkah preventif untuk melindungi keselamatan warga negara di tengah kondisi yang tidak menentu.
Langkah ini menunjukkan keseriusan Beijing dalam memastikan perlindungan terhadap warganya di luar negeri, terutama di wilayah konflik.
Ancaman Balasan dari Garda Revolusi Iran
Di sisi lain, situasi semakin kompleks setelah Garda Revolusi Iran menyatakan akan melancarkan operasi balasan besar-besaran terhadap Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik bisa meluas menjadi konfrontasi regional yang lebih besar.
Negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS juga dilaporkan telah mengalami dampak dari serangan-serangan sebelumnya. Eskalasi ini memperbesar potensi gangguan terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi kawasan, termasuk jalur perdagangan strategis.
Kunjungan Presiden AS ke China di Tengah Ketegangan
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada 31 Maret hingga 2 April mendatang. Kunjungan ini akan menjadi perjalanan pertama Trump ke China pada masa jabatan keduanya.
Menanggapi rencana tersebut, pihak Beijing menyatakan bahwa komunikasi antara kedua negara tetap berlangsung. Namun, belum ada rincian lebih lanjut mengenai agenda pembahasan atau apakah konflik Timur Tengah akan menjadi topik utama dalam pertemuan bilateral tersebut.
Kunjungan ini dipandang sebagai momen penting yang berpotensi memengaruhi dinamika hubungan China-Amerika Serikat, terutama dalam konteks stabilitas global dan isu keamanan internasional.
Dampak Regional dan Kekhawatiran Global
Konflik yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran telah memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi gangguan terhadap jalur energi dan perdagangan internasional.
Ketegangan yang terus meningkat dapat memengaruhi harga energi dunia serta memperburuk ketidakpastian ekonomi global.
Bagi China, stabilitas Timur Tengah memiliki arti strategis, mengingat kawasan tersebut merupakan salah satu sumber energi utama bagi negara itu.
Karena itu, seruan gencatan senjata yang disampaikan Beijing tidak hanya bernuansa kemanusiaan, tetapi juga mencerminkan kepentingan geopolitik dan ekonomi yang signifikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: South China Morning Post