Selasa, 17 FEBRUARI 2026 • 10:56 WIB

Iran Siap Kompromi dengan AS Soal Nuklir, Ini Syaratnya

Author

Ilustrasi AS vs Iran (sumber: geminiAI)

INDOZONE.ID - Di tengah ketegangan yang memanas, Iran memberi sinyal baru soal negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat. 

Dalam wawancara eksklusif dengan BBC di Tehran, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, menyatakan negaranya siap mempertimbangkan kompromi untuk mencapai kesepakatan, asalkan AS juga serius dan bersedia mencabut sanksi. 

"Bola sekarang di lapangan Amerika untuk membuktikan mereka mau membuat kesepakatan," tegasnya.

Baca juga: AS-Israel Satu Suara: Iran Harus Ditekan, Jual Minyak ke Cina Dikurangi

Isyarat Kompromi di Tengah Ancaman dan Keraguan

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari AS. 

Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang Iran jika kesepakatan nuklir baru tidak tercapai, sambil terus membangun kehadiran militer di kawasan. 

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut kesepakatan dengan Iran "sangat sulit". 

Meski begitu, pembicaraan tidak langsung melalui mediator Oman bulan ini disebut berjalan "kurang lebih ke arah positif" oleh Takht-Ravanchi, dan putaran kedua dijadwalkan di Jenewa pada Selasa (17/2).

Iran memberi sinyal konkret soal kemauan berkompromi, salah satunya dengan menawarkan untuk mengencerkan uranium yang diperkaya hingga 60%—level yang mendekati senjata nuklir dan memicu kecurigaan Barat. 

Baca juga: Gaza Panas Lagi! Israel Serang Balas, 11 Warga Tewas Termasuk di Tenda Pengungsi

"Kami siap membahas ini dan isu lain terkait program kami jika mereka siap bicara soal sanksi," ujar Takht-Ravanchi. 

Namun, ia belum mau merinci apakah semua sanksi akan dicabut atau hanya sebagian.

Red Line: Enrichment Nol Persen dan Program Rudal

Pernyataan paling mencolok dari wawancara ini adalah klaim Takht-Ravanchi bahwa tuntutan AS agar Iran menghentikan total pengayaan uranium (zero enrichment) "sudah tidak relevan dan tidak lagi di atas meja". 

Pernyataan ini kontras dengan komentar Trump pada Jumat (13/2) yang masih menegaskan "kami tidak ingin ada pengayaan sama sekali". Ini menunjukkan kesenjangan besar yang masih harus dijembatani.

Baca juga: Panglima Suriah Kuasai Pangkalan Shaddadi, Koordinasi dengan AS di Balik Layar

Selain itu, Iran menolak keras untuk membahas program rudal balistiknya dalam negosiasi, yang menjadi tuntutan utama Israel dan AS. 

"Saat kami diserang Israel dan Amerika, rudal kami yang menyelamatkan kami. Jadi bagaimana bisa kami menerima melucuti kemampuan pertahanan diri?" tegas Takht-Ravanchi. 

Ia juga mengkritik pesan kontradiktif dari Gedung Putih: di satu sisi menginginkan negosiasi damai, di sisi lain Trump kembali bicara soal "regime change" dan membangun kekuatan militer di kawasan. 

Takht-Ravanchi memperingatkan bahwa perang baru akan menjadi "traumatis dan buruk bagi semua orang," dan jika Iran merasa terancam secara eksistensial, "kami akan merespons sesuai."

Baca juga: Makin Panas! Kanada Ikut-ikutan Ingin 'Regime Change' di Iran, Tambah Sanksi

Putaran Baru di Jenewa dan Harapan yang Rapuh

Putaran kedua negosiasi di Jenewa akan menjadi ujian krusial bagi niat baik kedua belah pihak. 

Kehadiran menantu Trump, Jared Kushner, di pembicaraan sebelumnya dianggap Iran sebagai sinyal positif keterlibatan AS yang lebih serius. 

Namun, Iran juga masih menyimpan kekecewaan dan kecurigaan, terutama setelah serangan mendadak Israel tahun lalu yang menggagalkan putaran negosiasi sebelumnya. 

"Kami berharap bisa melakukan ini melalui diplomasi, meski tidak bisa 100% yakin," pungkas Takht-Ravanchi. 

Baca juga: Kecanduan Seks gegara Obat, Pria Inggris Ini Gelapkan Rp12 M dan Hancurkan Keluarga

Dunia kini menanti apakah Babak baru di Jenewa akan membawa perdamaian atau malah memperdalam jurang konflik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BBC

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU