Rabu, 24 DESEMBER 2025 • 09:10 WIB

Orang Tua Terduga Pelaku Penikaman Brutal di MRT Taiwan Berlutut dan Minta Maaf

Author

Orang tua tersangka dalam kasus penikaman di MRT Taipei berlutut untuk menyampaikan permintaan maaf saat muncul di Pusat Pemeriksaan Forensik dan Otopsi Kota Taipei pada 23 Desember 2025. (Taipei Times)

INDOZONE.ID - Orang tua pelaku penikaman di Taiwan minta maaf secara terbuka kepada publik setelah insiden berdarah di jaringan MRT Taipei yang menewaskan tiga orang dan melukai belasan lainnya. 

Dengan penuh penyesalan, keduanya berlutut di hadapan wartawan sebagai bentuk tanggung jawab moral atas tindakan sang anak.

Insiden penikaman tersebut terjadi pada Jumat sore pekan lalu, saat jam sibuk. Pelaku berusia 27 tahun yang diidentifikasi sebagai Chang Wen diduga melepaskan bom asap di stasiun utama MRT Taipei sebelum melakukan penikaman secara acak. 

Baca juga: Polisi Pastikan Aksi Penikaman di Taipei Dilakukan Pelaku Tunggal, Terencana Sejak Awal

Akibat serangan itu, sedikitnya 11 orang mengalami luka-luka.

Chang ditemukan meninggal dunia di hari yang sama. Wali Kota Taipei, Chiang Wan-an, menyebut pelaku diduga melompat dari sebuah gedung di sekitar lokasi kejadian usai melakukan aksinya.

Pada Selasa (23/12/2025), kedua orang tua Chang muncul di hadapan publik saat mendatangi Pusat Pemeriksaan Forensik dan Otopsi Kota Taipei. Mengenakan topi dan masker, keduanya berlutut dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung.

Baca juga: Penusukan Massal di Taiwan: 4 Tewas, Pelaku Lempar Bom Asap

Momen tersebut terekam kamera dan video orang tua berlutut di Taipei itu disiarkan langsung oleh sejumlah stasiun televisi nasional. Tayangan tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu reaksi emosional dari masyarakat.

Tindakan keji yang dilakukan Chang Wen telah menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat serta penderitaan mendalam bagi para korban dan keluarganya,” ujar sang ayah.

Kami sungguh meminta maaf dan akan bekerja sama sepenuhnya dengan proses hukum,” tambahnya sambil membungkuk bersama sang istri.

Permintaan maaf terbuka kasus MRT Taipei ini menjadi sorotan karena jarang terjadi dalam kasus kriminal besar di Taiwan. 

Polisi sendiri masih mendalami motif di balik serangan tersebut, yang berlangsung di beberapa titik, mulai dari stasiun utama MRT, kawasan pusat perbelanjaan bawah tanah, hingga stasiun lainnya.

Meski demikian, aparat menyatakan unsur terorisme sementara telah dikesampingkan. 

Polisi menduga pelaku bertindak seorang diri dan telah merencanakan aksinya dengan tujuan melakukan pembunuhan secara acak.

Dari hasil penyelidikan, Chang diketahui pernah menjalani wajib militer, namun diberhentikan akibat kasus mengemudi dalam pengaruh alkohol. 

Ia juga tercatat mangkir dari pelatihan militer cadangan dan sempat masuk dalam daftar pencarian. Chang disebut tidak memiliki pekerjaan tetap dan bergantung secara finansial pada keluarganya. 

Ia menyewa sebuah apartemen di dekat Stasiun Utama Taipei sejak Januari dan diduga telah mempelajari lokasi serangan sebelumnya.

Penyelidik juga menemukan riwayat pencarian mencurigakan di perangkat digital milik Chang, termasuk kata kunci terkait “pembunuhan acak”, serta materi tentang kasus penikaman MRT Taipei pada 2014 yang menewaskan empat orang.

Sementara itu, warga terus berdatangan ke lokasi kejadian untuk meletakkan bunga dan menyalakan lilin sebagai bentuk penghormatan kepada para korban. 

Tragedi ini kembali membuka diskusi publik mengenai keamanan transportasi umum, pengawasan mental, dan pencegahan kekerasan di ruang publik Taiwan.

Kasus ini masih dalam penanganan aparat berwenang dan terus menjadi perhatian nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Taipei Times

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU