Penusukkan massal di Taipei, Taiwan, menewaskan tiga orang. (Reuters/Ann Wang)
INDOZONE.ID - Insiden penusukan massal terjadi Taiwan, setelah seorang pria menyerang warga di pusat kota Taipei. Empat orang tewas, termasuk pelaku, yang sempat melempar granat asap di area stasiun metro saat jam sibuk.
Serangan ini terjadi di area padat aktivitas, termasuk Stasiun Utama Taipei dan distrik perbelanjaan Zhongshan pada Jumat (19/12/2025).
Pelaku bahkan sempat melempar bom asap untuk memicu kepanikan.
Laporan The Guardian, serangan dimulai di Stasiun Utama Taipei pada jam sibuk. Pelaku diduga melempar granat asap ke dalam stasiun untuk memicu kekacauan.
Setelah itu, ia bergerak ke kawasan Zhongshan yang berada tak jauh dari stasiun.
Baca juga: Polisi Pastikan Aksi Penikaman di Taipei Dilakukan Pelaku Tunggal, Terencana Sejak Awal
Di sana, pelaku kembali melempar bom asap sebelum berlari dan menyerang orang-orang secara acak dengan pisau panjang.
Video warga yang beredar di media sosial memperlihatkan asap tebal di area stasiun dan orang-orang dievakuasi dari gedung-gedung sekitar.
“Pemandangannya mengerikan dan baunya sangat busuk,” kata seorang warga yang mengunggah video kejadian tersebut.
Wali Kota Taipei, Chiang Wan-an, mengatakan salah satu korban tewas adalah warga yang mencoba menghentikan aksi pelaku di dalam stasiun.
Pelaku sendiri akhirnya tewas setelah terjatuh dari sebuah gedung saat dikejar polisi di kawasan perbelanjaan yang ramai. Polisi bersenjata langsung disiagakan di stasiun metro dan area sekitar untuk mengamankan situasi.
Pelaku diketahui seorang pria berusia 27 tahun asal Taoyuan, wilayah utara Taiwan. Ia disebut sebagai mantan tentara sukarelawan angkatan udara yang pernah bertugas di dekat Bandara Songshan Taipei.
Namun, ia diberhentikan dari dinas pada 2022.
Perdana Menteri Taiwan, Cho Jung-tai, mengungkapkan pelaku memiliki catatan kriminal sebelumnya dan surat perintah penangkapan yang belum dijalankan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian