Kamis, 18 DESEMBER 2025 • 12:15 WIB

PM Jepang Tegaskan Dialog dengan China Tetap Terbuka di Tengah Ketegangan Diplomatik

Author

Sanae Takaichi, Perdana Menteri Jepang, berbicara dalam konferensi pers di kantor perdana menteri di Tokyo, Jepang, pada 17 Desember 2025. (Reuters/Kiyoshi Ota)

INDOZONE.ID - Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan bahwa pemerintahannya tetap membuka ruang komunikasi dengan China meski hubungan bilateral kedua negara tengah diuji ketegangan. 

Sikap ini menjadi bagian dari kebijakan luar negeri PM Sanae Takaichi yang menekankan pentingnya stabilitas kawasan dan dialog terbuka dengan negara-negara tetangga.

Dalam konferensi pers di Tokyo pada Rabu (17/12/2025), Takaichi menyebut China sebagai mitra regional yang tidak bisa diabaikan. 

Baca juga: Pemilik Restoran Jepang di China Resah karena Ketegangan Diplomatik Memanas

Menurutnya, menjaga hubungan Jepang dan China tetap konstruktif merupakan kepentingan strategis bagi Tokyo. 

China adalah tetangga penting bagi Jepang. Kami perlu membangun hubungan yang stabil dan saling menghormati. Jepang selalu terbuka untuk berdialog dengan China,” ujar Takaichi.

Pernyataan tersebut muncul di tengah polemik diplomatik yang dipicu oleh pernyataan Sanae Takaichi tentang China dan Taiwan pada November lalu. 

Baca juga: Presiden Taiwan Santap Sushi Jepang sebagai Gestur Dukungan di Tengah Ketegangan dengan China

Saat itu, ia menyinggung kemungkinan Jepang akan mengambil langkah militer jika Taiwan diserang. Komentar tersebut langsung memicu reaksi keras dari Beijing, yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menentang segala bentuk campur tangan asing.

Sebagai respons, pemerintah China mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya untuk menunda atau menghindari kunjungan ke Jepang. Dampaknya mulai terlihat pada sektor pariwisata. 

Data Japan National Tourism Organization (JNTO) menunjukkan jumlah wisatawan asal China yang datang ke Jepang bulan lalu hanya meningkat sekitar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menjadi pertumbuhan terendah sejak Januari 2022.

Sekitar 560 ribu wisatawan dari China tercatat mengunjungi Jepang pada periode tersebut. JNTO menyebut peringatan perjalanan dari Beijing sebagai salah satu faktor utama perlambatan ini. 

Padahal, dalam beberapa bulan sebelumnya, pertumbuhan wisatawan China ke Jepang sempat mencatat angka dua digit, termasuk 22,8 persen pada Oktober dan 36,5 persen pada Agustus.

Meski demikian, pelaku industri pariwisata Jepang menilai situasi ini masih bisa dikelola. Juru bicara Osaka Convention and Tourism Bureau, Takayuki Kitanaka, mengatakan penurunan jumlah wisatawan China sebagian tertutupi oleh peningkatan kunjungan dari negara lain. 

Ia menambahkan, banyak pelaku usaha tetap bersiap menyambut kembalinya wisatawan China ketika ketegangan mereda. China sendiri masih menjadi penyumbang wisatawan terbesar bagi Jepang. 

Dalam sembilan bulan pertama 2025, hampir 7,5 juta wisatawan asal China berkunjung ke Negeri Sakura, mencakup sekitar seperempat dari total wisatawan mancanegara. 

Dengan nilai yen yang melemah, wisatawan China tercatat membelanjakan sekitar US$3,7 miliar pada kuartal ketiga tahun ini, dengan rata-rata pengeluaran lebih tinggi dibanding wisatawan dari negara lain.

Sementara itu, survei lembaga riset Teikoku Databank menunjukkan respons pelaku usaha yang beragam. Sebanyak 43 persen perusahaan menilai ketegangan diplomatik ini berdampak negatif terhadap perekonomian Jepang, namun 41 persen lainnya tidak melihat pengaruh signifikan. 

Temuan ini mengindikasikan bahwa banyak perusahaan masih menyikapi dinamika hubungan Jepang dan China dengan cukup tenang. Ketegangan kembali meningkat awal bulan ini setelah pesawat militer China dilaporkan mengunci radar ke arah jet tempur Jepang. 

Insiden tersebut mendorong Tokyo memanggil duta besar China untuk menyampaikan protes resmi, sekaligus menegaskan kembali posisi Jepang yang mengutamakan dialog dalam kebijakan luar negerinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU