INDOZONE.ID - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy kembali menegaskan, pertemuannya dengan Putin merupakan jalan paling efektif untuk mengakhiri perang.
Pernyataan ini disampaikan saat Ukraina merayakan Hari Kemerdekaan, di tengah kabar keberhasilan merebut kembali beberapa wilayah di Donetsk.
Harapan akan tercapainya perundingan damai Ukraina-Rusia, sempat meningkat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendorong adanya pertemuan tingkat tinggi antara kedua negara.
Baca juga: Zelenskyy: Rusia Lakukan Segala Cara untuk Cegah Pertemuan dengan Putin
Namun, Moskow menolak kemungkinan Zelenskyy minta bertemu Putin dalam waktu dekat, sehingga menambah panjang daftar hambatan dalam proses diplomasi.
Meski demikian, Zelenskyy menegaskan, dialog langsung antar pemimpin tetaplah solusi paling realistis.
“Format pertemuan pemimpin adalah langkah paling efektif untuk maju,” tegasnya, menyoroti mandeknya perdamaian Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung lama.
Baca juga: Sekutu Ukraina Dorong Pertemuan Damai Zelenskyy dan Putin
Di tengah kebuntuan diplomasi, Ukraina dan Rusia sepakat melakukan pertukaran 146 tahanan perang serta warga sipil. Kesepakatan ini menjadi salah satu titik terang di antara hubungan yang penuh ketegangan.
Organisasi Reporters Without Borders bahkan menyambutkan, pembebasan dua jurnalis Ukraina yang sebelumnya ditahan Rusia.
Dalam upacara Hari Kemerdekaan, Zelenskyy juga memberikan penghargaan kepada Keith Kellogg, utusan AS, sembari menegaskan, tekadnya untuk mendorong Rusia menuju perdamaian.
Di medan tempur, Ukraina mengumumkan berhasil merebut tiga desa di Donetsk yang sebelumnya dikuasai Rusia. Langkah ini menjadi jawaban atas klaim Moskow yang sehari sebelumnya menyebut telah menguasai dua desa baru.
Selain itu, serangan drone Ukraina pada Hari Kemerdekaan juga menyasar infrastruktur penting Rusia, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir di Kursk.
Walau sempat menimbulkan kebakaran, pihak Rusia menyatakan tidak ada korban jiwa maupun kebocoran radiasi.
Sebaliknya, Rusia melancarkan serangan besar dengan rudal balistik dan 72 drone Shahed buatan Iran. Ukraina mengklaim berhasil menembak jatuh 48 di antaranya, namun serangan tetap menewaskan seorang perempuan di wilayah Dnipropetrovsk.
Dalam pidato kenegaraan, Zelenskyy menyampaikan pesan penuh optimisme. “Hari ini, baik Amerika Serikat maupun Eropa sepakat: Ukraina belum sepenuhnya menang, tetapi jelas tidak akan kalah. Ukraina bukanlah korban, melainkan pejuang,” ujarnya.
Ia juga menekankan, pentingnya kehadiran pasukan asing di Ukraina setelah perang berakhir sebagai jaminan keamanan, meski Rusia menentang keras gagasan tersebut.
Dukungan internasional terus berdatangan. Kanada menegaskan bahwa masa depan kedaulatan Ukraina bukanlah keputusan Rusia.
Sementara Norwegia menjanjikan bantuan 7 miliar kroner (sekitar Rp11,2 triliun) untuk menyediakan sistem pertahanan udara Patriot yang akan disalurkan bersama Jerman.
Saat ini, Rusia masih menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina, termasuk Krimea yang dianeksasi sejak 2014. Presiden Putin tetap menolak tuntutan gencatan senjata dari Ukraina maupun negara Barat.
Perang berkepanjangan ini telah menewaskan puluhan ribu orang, menghancurkan kota-kota, dan memaksa jutaan warga Ukraina mengungsi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters