INDOZONE.ID - Pemerintah Jerman tengah bersiap menerapkan kembali program wajib militer bagi pria berusia 18 tahun.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar untuk memperkuat pertahanan nasional, di tengah meningkatnya ketegangan global, terutama ancaman dari Rusia.
Selain itu, adanya ketidakpastian posisi Presiden AS Donald Trump terhadap keamanan kawasan Eropa.
Informasi dari Kementerian Pertahanan menyebutkan, Jerman akan mewajibkan seluruh pria muda untuk menjalani seleksi militer awal, berupa pengisian kuesioner dan pemeriksaan kebugaran mulai 2028.
Meskipun kuesioner bersifat sukarela bagi perempuan, bagi laki-laki, pemeriksaan ini akan diwajibkan meskipun mereka tidak berniat mendaftar sebagai tentara.
Baca juga: Kanselir Jerman Tuding Perang Rusia-Ukraina Penyebab Kecelakaan Pesawat Azerbaijan Airlines
Program ini akan diajukan ke kabinet dalam bentuk rancangan undang-undang bulan depan. Meskipun target awal adalah meningkatkan jumlah sukarelawan, namun aturan tersebut juga membuka jalan bagi diberlakukannya kembali wajib militer Jerman secara penuh, yang sempat dihentikan pada 2011 di masa Kanselir Angela Merkel.
Keputusan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa, Jerman berlakukan wajib militer sebagai upaya nyata dalam merespons tantangan keamanan yang terus berkembang.
Kanselir Friedrich Merz menekankan, pentingnya memperkuat militer, dan telah mengusulkan agar belanja pertahanan tidak lagi tunduk pada batasan defisit negara, demi membangun 'angkatan darat konvensional terkuat di Eropa'.
Bundeswehr saat ini memiliki sekitar 180.000 prajurit aktif, dan 49.000 pasukan cadangan. Tahun ini, target rekrutmen adalah 15.000 orang, naik 5.000 dari tahun lalu.
Namun, ambisi pemerintah jauh lebih besar, yakni 40.000 rekrutan per tahun hingga 203,1 dan kekuatan militer mencapai 460.000 personel termasuk 260.000 prajurit aktif dan 200.000 cadangan.
Untuk mendukung target tersebut, Jerman juga menyiapkan berbagai insentif menarik, termasuk pelatihan teknologi canggih dan kursus bahasa asing untuk menarik minat generasi muda.
Sebagai perbandingan, Swedia yang menjadi negara tetangga di utara lebih dulu mengaktifkan kembali sistem wajib militer terbatas pada 2017, setelah sempat dihentikan sejak 2010.
Dengan langkah ini, terlihat bahwa wajib militer Jerman kembali menjadi bagian penting dari kebijakan strategis nasional.
Pemerintah Jerman ingin memastikan, negaranya siap menghadapi berbagai potensi konflik di masa depan dengan kekuatan militer yang terlatih.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters