Selasa, 22 JULI 2025 • 19:20 WIB

Jepang Panik Karena Stok Menipis, Korea Selatan Pusing Karena Surplus Beras

Author

Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Shinjiro Koizumi, memeriksa gudang penyimpanan beras cadangan di Kanagawa, Jepang, 30 Mei 2025. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

INDOZONE.ID - Dua negara tetangga di Asia Timur saat ini tengah menghadapi krisis pangan yang bertolak belakang. 

Jepang panik karena stok pangan menipis, sementara Korea Selatan justru mengalami surplus beras yang menyebabkan harga anjlok. Ironi ini mencerminkan kondisi pangan Asia Timur yang sangat kompleks dan kontras.

Krisis ini tak hanya memengaruhi meja makan, tetapi juga berdampak pada kebijakan, kesejahteraan petani, hingga stabilitas ekonomi. Para pengamat menyebut situasi ini sebagai ironi pangan Asia Timur, di mana dua negara maju menghadapi masalah yang berlawanan secara ekstrem.

Baca juga: Presiden Prabowo Soroti Pengoplos Beras, Negara Rugi Rp100 Triliun per Tahun

Park Geun Sik, seorang petani senior di Haenam, Provinsi Jeolla Selatan, mengenang masa lalu ketika beras masih menjadi barang langka. Namun kini, berkat teknologi dan kebijakan swasembada pangan, produksi meningkat tajam. 

Sayangnya, Korea Selatan mengalami surplus beras hingga membuat banyak petani kesulitan menjual hasil panen dengan harga yang menguntungkan.

Bersama koperasi pertanian nasional Nonghyup, Park menjual hasil panennya setiap tahun. Pemerintah turut membeli hasil petani untuk menjaga ketahanan pangan Korea Selatan, bahkan menyimpan 700.000-800.000 ton beras sebagai cadangan jika terjadi bencana atau perang.

Baca juga: Waspada! Begini Cara Membedakan Beras Layak dan Tak Layak Konsumsi

Namun, impor rutin sebesar 13 persen dari total konsumsi dalam negeri sesuai ketentuan WTO justru menambah tekanan. “Petani sudah tidak bisa menoleransi rendahnya harga lagi,” kata Gu Gwang Seok dari Liga Petani Korea. “Kami minta jaminan harga dan penghentian impor.

Berbeda dengan Korea Selatan, Jepang panik stok pangan menipis akibat gagal panen dan lonjakan konsumsi domestik. Di beberapa wilayah, rak-rak supermarket kosong, dan harga beras naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Di bulan Juli 2025, harga rata-rata mencapai Rp440 ribu untuk 5 kg.

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Jepang mulai membuka cadangan pangan nasional. Namun, stok cepat menipis dan kini hanya tersisa sekitar 100.000 ton. Pemerintah pun mulai mengimpor lebih banyak dari negara lain, termasuk Korea Selatan untuk pertama kalinya sejak 1999.

Kazuyoshi Fujimoto, petani dari Kakogawa, mengatakan ia mulai meninggalkan usaha sawah karena tingginya biaya perawatan dan lebih memilih menanam buah ara. 

Ia menambahkan, “Dengan harga mesin dan pemeliharaan yang mahal, petani kecil seperti saya tak bisa bertahan lama.

Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan Jepang, terutama karena jumlah petani terus menyusut dan lahan pertanian menyempit akibat urbanisasi dan penuaan populasi.

Petani Korea Selatan mulai melihat potensi lain di luar padi. Kim Jun Hyeong, misalnya, kini mengalihkan setengah lahan sawahnya untuk menanam kacang-kacangan yang lebih menguntungkan. 

Kacang bisa dijual dua kali lipat lebih mahal dari beras, dan jauh lebih mudah dikelola,” ungkapnya.

Sementara itu, di kota-kota besar seperti Seoul, beras mulai diolah menjadi produk inovatif seperti roti berbahan tepung beras. Rike Bakery, salah satu toko roti baru, memanfaatkan citra sehat beras untuk menarik pelanggan.

Pemilik toko, Jeon Hee Ju, mengatakan, “Banyak konsumen percaya bahwa produk berbahan dasar beras lebih menyehatkan dan nyaman dikonsumsi. Kami ingin menjadi bagian dari solusi dengan meningkatkan konsumsi beras lewat inovasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Yonhap News

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU