INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan pada Kamis (11/7/2025) bahwa AS akan mengirim senjata ke Ukraina lewat jalur NATO. Ini menjadi bagian dari langkah terbaru dalam kebijakan luar negeri AS mengenai konflik Ukraina yang terus memanas.
Tak hanya soal senjata, Trump juga menyatakan akan menyampaikan pernyataan penting soal Rusia pada Senin mendatang.
Dalam beberapa waktu terakhir, Trump memang terlihat semakin frustrasi dengan sikap Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang dianggap tidak menunjukkan upaya serius untuk mengakhiri perang yang dimulai sejak Februari 2022.
Baca juga: Rusia Gempur Ukraina dengan 700 Drone usai Trump Janji Kirim Senjata Tambahan
“Saya rasa saya akan membuat pernyataan besar soal Rusia pada Senin,” ujar Trump dalam wawancara bersama media setempat, tanpa memberi detail lebih jauh.
Trump juga mengungkap adanya kesepakatan baru antara AS, NATO, dan Ukraina terkait pengiriman senjata.
“Kita kirim senjata ke NATO, lalu NATO yang akan menyalurkan senjata tersebut ke Ukraina. Seluruh biaya senjata itu ditanggung penuh oleh NATO. Jadi, kita tidak membayar, NATO yang membayar semuanya,” jelasnya.
Dengan demikian, bantuan senjata AS untuk Ukraina ini diberikan melalui mekanisme baru yang melibatkan NATO secara langsung sebagai penyalur dan penanggung biaya.
Baca juga: Trump: AS Bakal Lebih Banyak Kirim Tambahan Senjata ke Ukraina
Untuk pertama kalinya sejak kembali menjabat, Trump memutuskan mengirim senjata ke Ukraina dengan menggunakan Presidential Drawdown Authority, yaitu wewenang khusus presiden yang memungkinkan pengambilan stok senjata dari gudang AS dalam kondisi darurat.
Menurut sumber yang mengetahui keputusan ini, nilai bantuan senjata tersebut diperkirakan mencapai sekitar US $300 juta.
Paket tersebut bisa saja mencakup rudal Patriot untuk pertahanan serta roket jarak menengah, meskipun daftar lengkap persenjataan yang akan dikirim masih dibahas lebih lanjut.
Trump sebelumnya memang kerap mengkritik pengeluaran AS untuk Ukraina. Namun kini, langkahnya mengirim bantuan senjata ini menjadi bagian dari dinamika baru konflik Ukraina, terutama di tengah intensitas serangan Rusia yang terus meningkat.
Di hari yang sama, Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke Ukraina, menghantam Kyiv dan sejumlah wilayah lainnya. Serangan ini terjadi jelang konferensi di Roma yang membahas upaya rekonstruksi Ukraina.
Sedikitnya dua orang tewas dan 26 orang terluka dalam serangan itu. Hampir semua wilayah Kyiv mengalami kerusakan akibat rudal dan drone yang diluncurkan Rusia.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dalam konferensi tersebut meminta agar negara-negara Barat lebih aktif memanfaatkan aset Rusia yang dibekukan untuk membantu proses rekonstruksi. Ia juga menekankan pentingnya pengiriman senjata, kerja sama produksi alat pertahanan, dan investasi asing.
Hasil konferensi itu menghasilkan komitmen dana lebih dari €10 miliar atau sekitar US $12 miliar untuk Ukraina. Uni Eropa sendiri memberikan dukungan sebesar €2,3 miliar.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio melakukan pertemuan dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov di Malaysia. Dalam pertemuan tersebut, Rubio menegaskan bahwa Moskow perlu lebih fleksibel dan terbuka dalam menyelesaikan konflik ini.
“Kita perlu melihat adanya peta jalan yang konkret untuk menyelesaikan perang ini,” ujar Rubio, seraya menyebut bahwa pemerintahan Trump tengah berdiskusi dengan Senat terkait kemungkinan sanksi baru untuk Rusia.
Rubio menyebut pertemuan itu berlangsung tegas dan terbuka. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menggambarkan diskusi tersebut sebagai pertukaran pandangan yang jujur dan substantif.
Zelenskyy mengungkapkan, dalam serangan terbarunya, Rusia meluncurkan sekitar 400 drone dan 18 rudal, dengan mayoritas target mengarah ke ibu kota Kyiv.
Ledakan besar mengguncang kota, disertai suara tembakan dari sistem pertahanan udara. Banyak bangunan rusak, kaca jendela pecah, dan mobil-mobil terbakar. Di pusat kota, sebuah apartemen delapan lantai terbakar hebat.
“Ini benar-benar teror. Mereka selalu menyerang di malam hari, saat orang-orang sedang tidur,” ujar Karyna Volf, warga Kyiv berusia 25 tahun yang selamat dari serangan itu.
Pihak berwenang menyebutkan sebagian besar drone berhasil ditembak jatuh, sehari setelah Rusia mencatat rekor serangan drone terbanyak ke Ukraina, yaitu sebanyak 728 unit.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: New York Daily News