INDOZONE.ID - Serangan udara besar-besaran kembali mengguncang Lebanon ketika Israel melancarkan bombardir ke wilayah selatan Beirut pada Kamis malam.
Serangan ini secara khusus menargetkan fasilitas milik kelompok Hizbullah, termasuk pabrik drone bawah tanah yang terletak di tengah kawasan pemukiman padat. Warga melarikan diri dalam kepanikan, menyebabkan kemacetan di berbagai ruas jalan ibu kota.
Menurut laporan kantor berita ANI, terdapat hampir selusin ledakan yang terjadi di berbagai titik, dengan dua di antaranya terdengar sangat kuat. Asap hitam tebal membumbung dari lokasi-lokasi serangan yang menjadi sasaran.
“Israel serang pabrik drone Hizbullah di Beirut,” demikian kutipan dari laporan resmi militer Israel yang juga menyebut bahwa sasaran utama adalah infrastruktur produksi pesawat tanpa awak yang digunakan Hizbullah untuk serangan ke wilayah Israel.
Baca Juga: Pesawat Jamaah Haji Yaman Hancur Usai Israel Serang Bandara Sanaa
Serangan udara Israel di Beirut jelang Idul Adha ini menuai kecaman karena terjadi di tengah suasana religius yang sakral bagi umat Muslim.
Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon menyampaikan bahwa serangan ini kembali menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat dan bisa memperparah situasi keamanan.
PBB pun menyerukan agar seluruh pihak menahan diri dan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomatik.
Militer Israel sebelumnya telah memperingatkan warga agar mengungsi dari kawasan selatan Beirut, yang dikenal sebagai basis kekuatan Hizbullah.
Avichay Adraee, juru bicara militer Israel, menyatakan bahwa warga tinggal terlalu dekat dengan lokasi fasilitas militer kelompok tersebut dan berpotensi menjadi korban jika tidak segera menjauh.
Baca Juga: Prabowo: Indonesia akan Akui Negara Israel Asal Palestina Merdeka
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam keras tindakan militer Israel. Ia menyebut bombardir Israel ke Beirut targetkan fasilitas Hizbullah sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Lebanon dan perjanjian gencatan senjata 27 November 2024.
"Ini bukan hanya agresi militer, tetapi juga bentuk penghinaan terhadap upaya perdamaian di kawasan," kata Aoun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Washington Post