Demonstrasi warga Israel menuntut PM Netanyahu mundur
INDOZONE.ID - Sebuah demonstrasi besar terjadi di Yerusalem pada hari Minggu, melibatkan sekitar 10 ribu orang yang memprotes pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menurut laporan Reuters, para demonstran menuntut pemerintah untuk bertanggung jawab atas kematian 600 tentara dalam serangan terbaru Israel ke Palestina, jumlah korban tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah-tengah demonstrasi, para pengunjuk rasa mengibarkan bendera Israel berwarna biru dan putih, menyerukan “Pemilu sekarang” dan mendesak Netanyahu untuk mengundurkan diri.
Dalam sebuah konferensi pers di Yerusalem, Netanyahu menyatakan bahwa pemilihan umum di tengah situasi perang akan menyebabkan kelumpuhan negara selama berbulan-bulan, namun ia percaya bahwa Israel berada di ambang kemenangan.
The Guardian melaporkan bahwa demonstrasi ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk penahanan warga Israel di Gaza selama hampir enam bulan.
Pengunjuk rasa mendesak agar tahanan dibebaskan dan mengecam Netanyahu mundur dari jabatan karena dianggap sebagai “hambatan bagi kesepakatan".
Lanjut dalam wawancara The Guardian, Shira Albag, ibu dari salah satu sandera, Liri Albag, menyatakan, “Orang-orang Israel tidak akan melupakan atau memaafkan siapa pun yang menghalangi kesepakatan yang akan membawa mereka kembali kepada kami.”
Raz Ben-Ami, mantan tawanan yang telah dibebaskan, menekankan bahwa para sandera tidak akan mampu bertahan di Gaza.
Baca Juga: Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Sejauh 1,7 KM, BPPTKG Imbau Warga Jauhi Daerah Rawan
Para pengunjuk rasa mendesak pemerintah agar menyetujui perjanjian damai yang akan mencakup pembebasan tahanan Israel yang saat ini ditahan oleh Hamas di Gaza.
Einav Moses, seorang demonstran dan keluarga tawanan, mengkritik pemerintah karena tidak berencana untuk menyelamatkan para sandera.
Selain itu, The Guardian juga melaporkan adanya ketegangan internal dalam koalisi pemerintah terkait isu pengecualian untuk pria ultra-Ortodoks dari wajib militer, yang memicu gelombang protes massal di berbagai kota di seluruh Israel.
Para peserta aksi meminta distribusi yang lebih setara terkait kewajiban layanan militer yang berlaku bagi mayoritas penduduk negara tersebut.
Dalam perkembangan terbaru yang dikutip dari China Military, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengumumkan persiapan militer untuk melancarkan serangan ke Rafah, kota paling selatan di Jalur Gaza, pada Minggu (30/3/2024).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian