INDOZONE.ID - Sebuah kejadian memilukan terjadi di negara Amerika Selatan, yakni Ekuador. Ya, salah satu calon presiden (Capres) negara tersebut, yakni Fernando Villavicencio, tewas akibat ditembak usai menjalani kampanye.
Villavicencio menggelar kampanye dalam salah satu upaya menarik hati masyarakat Ekuador di Ibukota Negara, yaitu Quito. Namun siapa sangka usai menggelar kampanye Villavicencio harus meregang nyawa karena jadi korban penembakan.
Sebelum terjadinya insiden penembakan yang menewaskan Villavicencio, politikus berusia 59 tahun tersebut sempat mendapatkan ancaman dari salah satu kartel narkoba terbesar di Meksiko yang dibesut oleh El Chapo, yakni Sinaloa.
Baca Juga: Capres Ekuador Ditembak hingga Tewas Seusai Kampanye
Seperti INDOZONE sadur dari Reuters, Kamis (10/8/2023), Villavicencio mengaku mendapatkan ancaman pembunuhan dari berbagai pihak, termasuk dari pimpinan Sinaloa, yang merupakan kartel narkoba Meksiko yang sudah melebarkan sayapnya ke Ekuador.
Dalam penuturan penasihat kampanye Villavicencio, yakni Patricio Zuquilanda, kliennya mendapatkan setidaknya tiga ancaman pembunuhan sebelum insiden penembakan di Quito terjadi.
TKP insiden penembakan yang menewaskan capres Ekuador, Fernando Villavicencio.
Akan tetapi, hingga berita ini diturunkan pihak kepolisian Ekuador masih memburu dalang di balik insiden penembakan yang menewaskan Villavicencio. Sementara pelaku penembakan sendiri tewas usai terlibat baku tembak dengan aparat keamanan setempat.
Menyikapi insiden tersebut Presiden Ekuador, Guillermo Lasso, langsung menggelar pertemuan darurat bersama kabinetnya. Ia pun bersumpah akan mengusut kasus penembakan yang menwaskan Villavicencio hingga tuntas.
Baca Juga: Tegaskan PPP Komitmen Usung Ganjar, Mardiono: Tak Ada Pikiran Keluar Koalisi
"Marah dan kaget dengan pembunuhan calon presiden Fernando Villavicencio. Solidaritas dan belasungkawa saya kepada istri dan putrinya," ucap Lasso, seperti INDOZONE sadur dari Reuters, Kamis (10/8/2023).
"Saya telah meminta Presiden CNE, Diana Atamaint, Jaksa Agung Negara Bagian Diana Salazar, dan Presiden Pengadilan Nasional Ivan Saquicela, dan otoritas lainnya untuk membahas kejadian yang telah mengkhawatirkan negara ini," sambungnya.
Insiden ini sangat memilukan bagi warga Ekuador. Pasalnya tragedi penembakan tersebut terjadi hanya berjarak 10 hari jelang Pemilu Ekuador dilaksanakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters