Orang-orang yang lewat tercermin di papan harga saham di sebuah perusahaan pialang di Tokyo , Jepang, 29 September 2015. (REUTERS/Issei Kato)
INDOZONE.ID - Populasi Jepang kembali mengalami penurunan signifikan. Data sensus terbaru yang dirilis pemerintah Jepang, pada Jumat 29 Mei 2026, menunjukkan jumlah penduduk negara tersebut menyusut hingga 2,5 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak sensus modern mulai dilakukan pada 1920. Berdasarkan hasil awal sensus nasional yang digelar setiap lima tahun sekali, jumlah penduduk Jepang pada 2025 tercatat sekitar 123 juta jiwa, turun lebih dari 3 juta orang ketimbang 2020.
Kondisi ini makin menegaskan tantangan demografi yang selama bertahun-tahun menghantui negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia tersebut.
Jepang kini menghadapi kombinasi rumit antara rendahnya angka kelahiran, populasi lanjut usia yang terus meningkat, dan berkurangnya jumlah tenaga kerja produktif.
Baca juga: Jepang Aktifkan Kembali Pembangkit Nuklir Terbesar di Dunia Setelah 15 Tahun Pascabencana Fukushima
Penurunan populasi kali ini tercatat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode 2015 hingga 2020. Pemerintah Jepang mengakui bahwa tren penyusutan penduduk makin sulit dibendung.
Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengatakan data terbaru itu kembali memperlihatkan betapa seriusnya krisis populasi yang sedang dihadapi negara tersebut.
Menurutnya, penurunan jumlah penduduk bukan lagi sekadar tren sementara, melainkan masalah struktural yang terus memburuk dari tahun ke tahun.
Baca juga: Jepang Kerahkan Ribuan Petugas Pemadam untuk Jinakkan Kebakaran Hutan di Wilayah Utara
Salah satu penyebab utama menurunnya populasi Jepang adalah angka kelahiran yang sangat rendah. Jepang selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia.
Data resmi pemerintah menunjukkan jumlah kelahiran di Jepang kembali turun pada 2025. Tahun lalu, hanya ada sekitar 705.809 bayi yang lahir. Angka itu sekaligus menandai penurunan kelahiran selama 10 tahun berturut-turut.
Fenomena ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari tingginya biaya hidup, tekanan pekerjaan, hingga perubahan gaya hidup generasi muda yang makin menunda pernikahan dan memiliki anak.
Banyak pasangan muda di Jepang memilih fokus pada karier dan stabilitas finansial sebelum membangun keluarga. Akan tetapi, kondisi ekonomi yang tidak selalu mendukung membuat keputusan untuk memiliki anak menjadi semakin sulit.
Selain angka kelahiran yang rendah, Jepang juga menghadapi peningkatan jumlah penduduk lansia secara cepat. Saat ini, proporsi warga berusia lanjut di Jepang termasuk yang tertinggi di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Japantimes.co.jp