Tentara Israel di perbatasan Lebanon-Israel. (REUTERS/Shir Torem)
INDOZONE.ID - Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem membeberkan sejumlah syarat utama yang jadi pertimbangan untuk mengakhiri peperangan dengan Israel.
"Syarat-syaratnya, yaitu penghentian penuh agresi, penarikan segera pasukan, pembebasan tahanan, pengembalian para pengungsi, dan rekonstruksi," kata Qassem melalui siaran video, Senin (13/4/2026) waktu setempat.
Qassem menegaskan, pihaknya akan terus melakukan perlawanan dengan militer Israel jika terus menyerang dan menguasai wilayahnya.
Baca juga: Lebanon Hadapi Negosiasi dengan Israel dalam Posisi Lemah
Lebih lanjut katanya, konflik yang terjadi merupakan "agresi Amerika Serikat dan Israel" terhadap Lebanon.
"Pihak perlawanan telah memulihkan dirinya secara diam-diam dan sistematis dan ketika kami mendapat peluangnya, kami akan menangkap tentara musuh," lanjut pemimpin Hizbullah itu.
Sejauh ini, Israel tak mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pada 17 November 2024, menurut Qassem. Qassem menilai, satu-satunya jalan untuk mengakhiri konflik adalah dengan menjalankan kesepakatan tersebut secara penuh.
Qassem juga menegaskan bahwa Hizbullah menolak untuk berdialog dengan pihak yang ia sebut sebagai “entitas penjajah”, karena dianggap tidak membawa makna apa pun.
Selain itu, ia mendesak Pemerintah Lebanon agar mencabut larangan terhadap aktivitas militer Hizbullah. Menurutnya, tidak mungkin kelompok perlawanan dan militer berada dalam posisi yang saling berhadapan.
Sementara itu, pada Selasa, Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yechiel Leiter dijadwalkan bertemu dengan Duta Besar Lebanon untuk AS Nada Hamadeh-Moawad di Washington guna membahas kemungkinan tercapainya kesepakatan damai.
Baca juga: 5 Negara yang Paling Berpotensi Lenyap dari Peta jika Perang Dunia Ketiga Pecah, Ada Israel!
Pertemuan tersebut merupakan inisiatif dari pihak Lebanon dengan melibatkan mediator internasional. Menjelang perundingan berlangsung, aksi demonstrasi yang mendukung Hizbullah dilaporkan terjadi di Beirut, ibu kota Lebanon.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA