INDOZONE.ID - Ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah kini bukan hanya menjadi persoalan geopolitik, tetapi juga berpotensi mengguncang ekonomi global.
Para ahli memperingatkan, jika konflik ini terus berlanjut, dunia bisa menghadapi krisis energi yang lebih buruk dibandingkan krisis minyak besar pada era 1970-an.
Peringatan keras ini disampaikan oleh Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, yang menyebut situasi saat ini sebagai kombinasi dari dua krisis minyak sekaligus ditambah gangguan besar pada pasokan gas.
Baca juga: Iran Ancam Serang Infrastruktur AS dan Israel, Ketegangan di Timur Tengah Kian Memanas
Memasuki pekan keempat, konflik di kawasan Timur Tengah semakin intens. Serangan militer terus terjadi, termasuk serangan terbaru yang dilancarkan Israel ke wilayah Teheran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras kepada Iran. Ia memperingatkan akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali jalur vital Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang sangat penting, karena sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia melewati wilayah ini. Gangguan di jalur tersebut langsung berdampak pada distribusi energi global.
Sebagai respons, Iran membatasi lalu lintas kapal di selat tersebut dan hanya mengizinkan beberapa negara tertentu yang dianggap “bersahabat” untuk melintas. Sementara itu, kapal dari negara yang dianggap terlibat dalam konflik berpotensi diblokir.
Baca juga: Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Iran Jika Selat Hormuz Tetap Ditutup
Situasi ini membuat harga minyak dunia melonjak tajam, bahkan telah menembus angka lebih dari US$100 per barel. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global.
Menurut Fatih Birol, dunia saat ini kehilangan pasokan minyak dalam jumlah besar setiap harinya bahkan lebih besar dibandingkan gabungan dampak krisis minyak tahun 1970-an dan invasi Rusia ke Ukraina.
“Jika situasi ini terus berlanjut, tidak ada satu pun negara yang akan kebal dari dampaknya,” ujarnya.
Tak hanya minyak, sektor gas juga ikut terdampak. Gangguan distribusi energi mulai terasa hingga ke luar kawasan Timur Tengah. Salah satu contohnya, perusahaan energi besar di Kamboja terpaksa menghentikan penjualan gas petroleum cair akibat terganggunya pasokan.
Lebih dari 40 fasilitas energi di kawasan penghasil minyak dan gas dilaporkan mengalami kerusakan berat, bahkan sebagian di antaranya hancur total. Hal ini semakin memperparah kekhawatiran akan krisis energi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com