INDOZONE.ID - Presiden Rusia, Vladimir Putin, bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, di Anchorage, Alaska, pada Sabtu (16/8/2025), waktu setempat.
Dalam pertemuan terbatas yang berlangsung selama 2 jam 45 menit itu, format tiga lawan tiga digunakan.
Rusia diwakili Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dan Penasihat Presiden Yury Ushakov. Lalu, AS diwakili Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Utusan Khusus Steve Witkoff.
Pertemuan itu pun mengundang perhatian publik dunia. Bahkan, Pemimpin Redaksi Covert Action Magazine, Jeremy Kuzmarov, meninggalkan kesan ada kemajuan dalam perjanjian damai.
“Trump dan Putin meninggalkan kesan bahwa ada kemajuan menuju perjanjian damai. Namun, tidak ada kesepakatan gencatan senjata yang secara resmi dicapai," kata Kuzmarov menanggapi hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Alaska itu, dikutip dari ANTARA, Sabtu (16/8/2025).
Kuzmarov menerangkan, bahwa kedua pimpinan negara adidaya itu belum setuju dalam beberapa isu.
Baca juga: Jelang Pertemuan Putin dan Trump, Rusia Diklaim Sudah Menang Perang di Ukraina
Meski begitu, Putin tampak ingin memulihkan hubungan luar negeri, baik dalam ekonomi maupun diplomatik, dengan AS.
Sayangnya, belum jelas apakah AS mau mencabut semua sanksi, lalu kembali ke kebijakan setelah Perang Dingin. Kuzmarov menilai, jika Trump melakukan itu, ia akan mendapatkan banyak penolakan di dalam negeri.
"Jika ia mencoba melakukannya, ia akan menghadapi banyak penolakan di dalam negeri,” tambah Kuzmarov.
Pemimpin Redaksi Covert Action Magazine itu pun menyebut, belum jelas apakah Ukraina dan AS akan menerima “keuntungan teritorial besar” Rusia di Ukraina timur, serta berjanji untuk tidak mengizinkan ekspansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ke Ukraina.
Diperkirakan, dua hal itu jadi syarat penting untuk tercapainya perjanjian damai yang berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA