Ilustrasi MBG. (ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya)
INDOZONE.ID - Pemerintah Republik Indonesia akhirnya memberikan jawaban terkait narasi yang beredar di publik mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengurangi anggaran pendidikan.
Melalui Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, yakni Hariqo Wibawa Satria, pemerintah dengan tegas bahwa program MBG sama sekali tak mengurangi anggaran pendidikan.
Hariqo mengungkapkan bahwa anggaran endidikan di tahun 2026 mencapai Rp769,8 triliun, yang di dalamnya terdapat komponen alokasi anggaran sebesar Rp223,5 miliar untuk Badan Gizi Nasional (BGN) mengelola Program MBG.
"Gizi itu fondasi dari belajar. Jadi, MBG ini bukan mengurangi pendidikan, melainkan justru memastikan anggaran pendidikan yang besar tidak menjadi sia-sia karena siswa siap untuk belajar," kata Hariqo, seperti INDOZONE sadur dari Antara, Kamis (5/3/2026).
Baca juga: KPK Petakan Celah Korupsi Program MBG
Ia menegaskan, MBG justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan karena gizi merupakan fondasi bagi proses belajar siswa.
Selain itu, berbagai program pendidikan lain tidak mengalami pengurangan anggaran, bahkan beberapa di antaranya meningkat, seperti tunjangan guru dan bantuan pendidikan.
"Dokumen yang disebarkan itu menunjukkan klasifikasi fungsi anggaran atau komponen anggaran pendidikan, bukan pemotongan anggaran pendidikan," paparnya.
"Jadi, yang keliru bukan APBN nya, tetapi cara membacanya, karena MBG dan pendidikan itu adalah sebuah kesatuan, dan anggaran pendidikan tahun 2026 telah disepakati bersama-sama oleh pemerintah dan DPR RI," lanjut Hariqo.
Baca juga: Realisasi Anggaran MBG Kuartal I 2026 Diperkirakan Capai Rp60 Triliun
Bukan sekadar memberi makan, Program MBG menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Terlebih dari data yang dihimpun pemerintah menunjukkan 96 persen masyarakat Indonesia selama ini kurang mengonsumsi sayur dan buah, 66 persen anak memiliki pola makan buruk, serta 65 persen anak tidak sarapan sebelum berangkat sekolah.
"Selain itu, 32 persen remaja putri mengalami anemia dan 21 persen balita mengalami stunting," ujar dia.
Hariqo juga menambahkan, melalui MBG, pemerintah ingin membangun budaya baru, yaitu kebiasaan makan sehat dan kesadaran gizi sejak usia sekolah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara