Sabtu, 07 SEPTEMBER 2024 • 17:26 WIB

Selingkuh Termasuk Penyakit Mental atau Bukan? Jawabannya Ada di Sini!

Author

Ilustrasi orang berselingkuh (Freepik/stokkete)

INDOZONE.ID - Selingkuh adalah pengkhianatan terbesar dalam hubungan spesial yang terikat komitmen. Perilaku selingkuh pun mudah ditemui di era modern, seiring perkembangan media sosial.

Bahkan, hampir setiap hari ditemukan kasus perselingkuhan yang diunggah ke media sosial. Kasus-kasus tersebut tak hanya terkait dengan public figure, tetapi juga orang biasa.

Ilustrasi selingkuh dan perselingkuhan. (Freepik)

Maraknya perselingkuhan membuat netizen bahkan mengklaim, “Dunia isinya selingkuh doang.”

Lantas, bagaimana perilaku selingkuh dari sudut pandang kesehatan mental? Apakah selingkuh termasuk dalam atau salah satu tanda dari penyakit mental?

Baca Juga: Selingkuh Berujung Maut, Istri di Jaksel Dihujani Tusukan hingga Mati oleh sang Suami

INDOZONE pun mewawancarai Psikolog ternama, Kasandra Putranto, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Menurut Kasandra Putranto, perselingkuhan tidak termasuk gangguan psikologis.

Sebab, perselingkuhan dianggap sebagai perilaku atau tindakan, bukan kondisi kesehatan mental.

“Perselingkuhan sendiri tidak tergolong sebagai gangguan psikologis. Perselingkuhan umumnya dianggap sebagai perilaku atau tindakan, bukan kondisi kesehatan mental,” ucap Kasandra Putranto.

Namun, dia menjelaskan perilaku selingkuh dapat dikaitkan dengan atau dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, seperti:

Baca Juga: Gara-gara Selingkuh, Pria Beristri Ini Bantu Pacarnya Gugurkan Kandungan Usia 8 Bulan

  • Ciri-ciri kepribadian;
  • Ketidakpuasan hubungan;
  • Masalah psikologis, seperti gangguan pengendalian impuls, masalah keterikatan, atau bahkan gangguan kepribadian tertentu.

Efek Selingkuh untuk Kesehatan Mental Pelaku

Seperti dijelaskan sebelumnya, selingkuh dapat terjadi karena berbagai bentuk dan alasan yang berbeda. Akan tetapi, tindakan ini bisa terjadi dengan kesengajaan atau spontan dalam satu atau beberapa kejadian.

Ujung dari perselingkuhan adalah diketahui oleh pasangan. Biasanya, perselingkuhan terbongkar setelah sang pasangan tahu sendiri atau pelaku mengakuinya karena merasa bersalah.

Namun, sebelum terbongkar, perselingkuhan melalui beberapa urutan proses, yakni ketidakpuasan hubungan, munculnya alternatif, pemicu, ikatan, pengungkapan/tidak pengungkapan, refleksi pasca perselingkuhan, konsekuensi, dan penyelesaian.

Ilustrasi selingkuh (Freepik)

Baca Juga: Cerita Sedih R Disiksa Usai Pergoki Kekasih Selingkuh, Dicekik hingga Terseret Sepeda Motor

Perlu digarisbawahi, tidak semua kasus perselingkuhan melalui proses berurutan seperti yang dijelaskan di atas. Akan tetapi, tahap-tahap itu yang akan dialami dalam perselingkuhan.

Nah, selama atau sesudah perselingkuhan, pelaku akan menghadapi emosi dan introspeksi negatif, seperti rasa bersalah, penyesalan, dan pembenaran diri atas tindakan atau rencana mereka.

Rasa bersalah dan malu karena telah berselingkuh, terkadang mempengaruhi psikologis pelaku. Bahkan, ada yang berdampak positif dengan menciptakan perubahan dan perbaikan.

“Rasa bersalah dan malu karena perselingkuhan terkadang mempengaruhi pelaku secara psikologis dalam berbagai macam cara, terkadang bahkan secara positif, dengan menginspirasi perubahan dan perbaikan,” ungkap Kasandra Putranto.

Baca Juga: Lettu Agam Dinilai Terbukti Selingkuh, IPW Sebut Polresta Denpasar Tak Adil Tahan Anandira Puspita dan Bayinya

Cara Sembuh dari Selingkuh

Para pelaku selingkuh perlu merenungi dan mempertimbangkan secara sadar mengenai kejadian serta hubungan sebelumnya. 

Tujuannya supaya ada perubahan positif dalam preferensi pasangan dan kesiapan membina hubungan baru.

“Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perselingkuhan itu sendiri umumnya tidak disebabkan oleh gangguan apa pun. Seseorang yang berselingkuh belum tentu memiliki gangguan psikologis apa pun. Oleh karena itu, tidak ada rencana perawatan yang nyata bagi individu yang melakukan tindakan tersebut,” jelas Kasandra Putranto.

Penjelasan tadi berlaku untuk pasangan yang memutuskan berpisah, lalu ingin menemukan cinta baru yang lebih sehat. Lantas, bagaimana jika hubungan tetap berlanjut setelah perselingkuhan?

Baca Juga: Lettu Agam Dinilai Terbukti Selingkuh, IPW Sebut Polresta Denpasar Tak Adil Tahan Anandira Puspita dan Bayinya

Bagi yang terus melanjutkan hubungan, penting untuk membangun kembali rasa percaya diri dan harga diri masing-masing setelah pengkhianatan yang terjadi.

Selain itu, untuk hubungan yang berakhir atau berlanjut, penting bagi pelaku untuk bertanggung jawab dan jujur atas pengkhianatan yang telah dilakukannya.

Jadi, perselingkuhan dapat terjadi di hubungan spesial siapa pun, termasuk kamu yang membaca artikel ini. Akan tetapi, yang terpenting adalah bagaimana cara kamu menanganinya, baik berujung perpisahan maupun tetap bertahan, hingga move on dari pengalaman pahit tersebut.

Ilustrasi selingkuh dan perselingkuhan. (Freepik)

“Sebagian besar perselingkuhan terhubung dengan pola pikir dan ketidakpuasan dalam hubungan. Jadi, penting untuk memikirkan mengapa hal itu tidak cukup dan apakah bisa mengubah harapan dan perspektif, agar merasa bahagia dengan apa yang dimiliki di lain waktu,” pungkas Kasandra Putranto.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU