Sabtu, 24 AGUSTUS 2024 • 15:39 WIB

KDRT terhadap Selebgram Bikin Gempar Indonesia: Ternyata Dampak Kekerasan Amat Masif hingga Anak Trauma!

Author

Selebgram Cut Intan Nabila alami KDRT dari suami.

INDOZONE.ID - Selebgram Cut Intan Nabila menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh sang suami, Armor Toreador.

Parahnya, KDRT tersebut terjadi kala Cut Intan Nabila bersama anak-anaknya. Itu diketahui dari dua unggahan reels Cut Intan Nabila terkait KDRT yang dialaminya.

KDRT terhadap selebgram Cut Intan Nabila.

Dampak KDRT amatlah masif untuk Cut Intan Nabila selaku korban. Sebab, dia disakiti secara fisik dan mental oleh sang suami.

Namun, Cut Intan Nabila bukan satu-satunya korban dalam tragedi ini. Anak-anak Cut Intan Nabila juga menjadi korban secara tidak langsung, dengan menyaksikan KDRT tersebut.

Baca Juga: Viral Aksi KDRT di Tangerang, Korban Disundut hingga Ditusuk Gunting

KDRT Buat Anak Trauma

INDOZONE pun mewawancarai Psikolog Tika Bisono untuk tahu sejauh mana KDRT bisa mempengaruhi kesehatan mental anak.

Menurut Tika Bisono, setiap kali anak melihat kekerasan, akan mengalami trauma. Oleh sebab itu, dia menekankan pentingnya ada pendampingan psikologis berdasarkan assessment yang dilakukan.

Semua kegiatan yang disaksikan oleh anak, yang sifatnya kekerasan, itu pasti akan berdampak traumatis. Tapi, dampak traumatis ini masih bisa diatasi dengan catatan anak-anak ini diberi pendampingan psikologis,” kata Tika Bisono kepada INDOZONE, Sabtu (24/8/2024).

“Pendampingan itu harus selalu ada karena anaknya (Cut Intan Nabila) yang dua sudah cukup besar yah, di luar yang bayi. Itu pasti harus dipisah dulu dari orang tua (ayahnya),” jelasnya.

Baca Juga: Ahmad Sahroni Viralkan Aksi KDRT di Grogol Petamburan, Polisi Beberkan Kronologinya

Nah, lalu bagaimana dampak KDRT bagi mental anak? Tika Bisono menjelaskan, bahwa dampaknya anak bisa jadi gampang takut atau bahkan sebaliknya, yakni nakal hingga bersikap agresif. 

“Mereka jadi kayak nakal banget, juga akhirnya merusak. Jadi, bisa jadi takut banget atau menghantam, merusak dan sebagainya, sebagai pelampiasan marah juga,” ungkapnya.

“Nah, marahnya yang harus dilakukan assessment oleh psikolog. Bentuk marahnya itu keluar atau masih terpendam. Bahaya itu yang terpendam. Bentuk marah itu harus keluar, baru secara mental bisa sehat kembali,” sambung Tika Bisono.

Ilustrasi penganiayaan (FREEPIK)

Senada dengan Tika Bisono, Psikolog Kasandra Putranto pun menilai mental anak akan terdampak oleh KDRT, baik jangka pendek maupun panjang.

Baca Juga: Ramai Kasus KDRT Selebgram Cut Intan Nabila: Mengungkap Fakta dan Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga

1. Jangka Pendek

Untuk jangka pendek, Kasandra menyebut anak bisa mengalami kecemasan dan ketakutan. Ini bisa mengganggu konsentrasi belajar mereka. Bahkan, dapat memicu perilaku buruk, seperti membolos atau berperilaku agresif.

“Anak-anak yang mengalami atau menyaksikan KDRT sering kali merasakan kecemasan dan ketakutan yang mendalam. Mereka mungkin merasa tidak nyaman dan tidak aman di lingkungan rumah mereka, yang dapat mengganggu konsentrasi dan prestasi belajar mereka. Pikiran negatif yang muncul akibat pengalaman traumatis ini dapat menyebabkan kesulitan dalam fokus saat belajar,” kata Kasandra Putranto kepada INDOZONE.

“Selain itu, anak-anak juga dapat menunjukkan perilaku buruk, seperti membolos atau berperilaku agresif,” sambungnya.

2. Jangka Panjang

Lalu, anak bisa menderita PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) untuk dampak jangka panjangnya. Parahnya, anak juga bisa pelaku kekerasan di masa depan jika traumanya tidak ditangani dengan baik.

Baca Juga: Anak Pemilik Hotel di Riau Diduga KDRT: Proses Setahun, Polisi Langgar Etik hingga Masuk Sidang

“Dalam jangka panjang, efek KDRT bisa lebih parah. Anak-anak yang menyaksikan kekerasan di dalam rumah tangga berisiko mengalami gangguan kesehatan mental, seperti PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), yang dapat menyebabkan perasaan rendah diri, kesulitan tidur, dan masalah emosional lainnya,” tutur Kasandra Putranto.

“Mereka juga mungkin tumbuh dengan masalah kepercayaan, perilaku agresif, dan bahkan risiko untuk terlibat dalam kekerasan di masa depan. Trauma ini diawali dengan rasa takut yang berlebihan dan berlangsung cukup lama,” bebernya.

Cara Atasi Trauma dan Efek KDRT pada Mental Korban serta Anak

Mengambil contoh dari kasus KDRT yang dialami Cut Intan Nabila, sang selebgram dan anak-anaknya memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. 

 

 

 

Ilustrasi anak korban kekerasan. (Freepik)

6 Cara Atasi Trauma dan Efek KDRT

1. Bantuan Profesional

Bantuan dari tenaga profesional, seperti psikolog atau terapis, dibutuhkan oleh korban dan anak-anakya. Psikoterapi yang fokus pada trauma, seperti terapi kognitif perilaku, dapat sangat efektif dalam mengatasi dampak trauma KDRT.

Baca Juga: Fakta-fakta KDRT karena Beda Pilihan Capres di Batam: Suami Hantam Kepala Istri Berujung Dilaporkan ke Polisi

2. Ekspresi Emosi

Memberikan ruang untuk diri sendiri dan mengekspresikan emosi adalah langkah penting dalam proses penyembuhan. 

Hal ini bisa dilakukan melalui berbicara dengan orang terdekat, menulis jurnal, atau bahkan melalui seni. Mengungkapkan perasaan dapat membantu mengurangi beban emosional yang dirasakan.

3. Membangun Rasa Cinta Diri

Belajar untuk mencintai diri sendiri dan memberikan perhatian penuh pada diri sendiri dapat membantu korban mengatasi gejala trauma. 

Ini termasuk merawat diri secara fisik dan emosional, serta mengembangkan kebiasaan positif yang mendukung kesehatan mental.

Baca Juga: Tragedi KDRT di Pulau Bangka: Pelaku Meninggal Ditembak Polisi, Ibu Nurlela Berjuang untuk Hidup

4. Dukungan Sosial

Membangun jaringan dukungan sosial yang kuat sangat penting. Berbicara dengan teman, keluarga, atau kelompok dukungan dapat memberikan rasa aman dan membantu korban merasa tidak sendiri.

 

Cut Intan Nabila.

Keluarga itu sebagai sumber utama untuk pendampingan. Dalam keluarga besar, siapa dari mereka yang paling ada dampak untuk menenangkan, mengamankan, dan menyamankan. Sebab, profesional, seperti psikolog, tidak mungkin 24 jam mendampingi korban. Jadi, kita biasanya membangun suatu pemberdayaan keluarga untuk pendampingan korban,” ungkap Tika.

“Untuk sementara, mereka akan tergantung pada profesional. Tapi, pelan-pelan para profesional harus tergantikan oleh keluarga, dalam hal ini bisa juga sahabat, bisa juga siapa pun yang peduli. Pemberdayaan harus tetap diberdayakan. Tidak boleh profesional melebihi keluarga sebenarnya,” tambahnya.

5. Pendidikan dan Kesadaran

Meningkatkan kesadaran tentang KDRT dan dampaknya, dapat membantu korban serta anak-anak memahami situasi mereka. Ini juga dapat membantu mereka mengenali tanda-tanda kekerasan dan mencari bantuan lebih awal.

Baca Juga: Terdakwa Kasus KDRT di AS Serang Hakim di Pengadilan AS Usai Dijatuhkan Hukuman Penjara

6. Perlindungan dari KDRT

Penting untuk melindungi anak-anak dari situasi KDRT. Jika ada ancaman kekerasan, segera laporkan ke pihak yang berwenang atau layanan pengaduan yang tersedia. Lingkungan yang aman adalah kunci untuk pemulihan.

Namun, diperlukan assessment sebelumnya untuk dapat menentukan rencana intervensi yang tepat, menurut Tika Bisono dan Kasandra Putranto.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU