INDOZONE.ID - Pasukan PBB di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) adalah badan militer sementara yang pertama kali dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada 1978.
UNIFIL bertujuan mengkonfirmasi penarikan Israel dari Lebanon, memulihkan perdamaian dan keamanan Internasional, serta membantu pemerintah Lebanon dalam memulihkan otoritas efektifnya di wilayah tersebut.
Karena perkembangan pada 1982 dan 2000, mandat tersebut harus mengalami penyesuaian sebanyak dua kali.
Sementara itu, karena krisis pada Juli/Agustus 2006, UNIFIL juga diputuskan harus melakukan pemantauan penghentian permusuhan, mendampingi dan mendukung angkatan bersenjata Lebanon saat dikerahkan ke seluruh Lebanon Selatan, memperluas bantuan untuk memastikan akses kemanusiaan kepada penduduk sipil, dan pemulangan pengungsi secara sukarela serta aman.
Baca juga: Prajurit TNI Gugur di Lebanon Bertambah Jadi 3, Kemhan Pastikan Koordinasi dengan UNIFIL
Itu merupakan tugas dan peran UNIFIL yang harus dikerjakan, selain apa yang tertera pada mandat awal.
Kamu harus tahu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) punya perwakilan di UNIFIL, yaitu Kontingen Garuda.
Berdasarkan data per Januari 2026, Indonesia mengirimkan 756 prajurit dalam Kontingen Garuda untuk bergabung dengan UNIFIL, terbanyak kedua setelah Italia (784 prajurit).
Keberadaan Kontingen Garuda dalam UNIFIL merupakan bentuk nyata dari keterlibatan Indonesia dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.
Sayangnya, kabar dukacita datang dari Kontingen Garuda yang tergabung di UNIFIL. Sebanyak tiga prajurit Kontingen Garuda gugur pada Maret 2026.
Para prajurit TNI yang gugur itu adalah, Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar.
Farizal gugur karena serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, Minggu 29 Maret 2026. Selang sehari, Nur Ichwan dan Zulmi meninggal dunia karena ledakan kendaraan di dekat Bani Haiyyan.
TNI berdukacita atas gugurnya tiga prajurit mereka di Lebanon. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menegaskan komitmen negara untuk menjamin seluruh hak dan masa depan keluarga prajurit yang gugur di Lebanon tersebut.
Agus memastikan dukungan finansial dan pendidikan bagi ahli waris dari para prajurit TNI yang gugur tersebut. Selain itu, para prajurit yang gugur, juga mendapatkan kenaikan pangkat.
Kiprah Indonesia dalam Misi Perdamaian Dunia
Sementara itu, Kontingen Garuda sudah beberapa kali terlibat aktif dalam misi perdamaian dunia. Sejak 1957 hingga sekarang, putra-putri terbaik Indonesia telah dikirim dalam Misi Pemeliharaan Perdamaian (MPP) PBB.
Pada 1957, 599 personel infanteri yang tergabung dalam Kontingen Garuda I, ditugaskan ke Sinai, Mesir, dalam misi United Nations Emergency Force (UNEF).
Setelahnya, Kontingen Garuda dikirim untuk melakukan misi perdamaian di berbagai belahan dunia, seperti Kongo, Vietnam, Bosnia-Herzegovina, hingga Lebanon.
Misi pemeliharaan perdamaian tugasnya terbatas pada pemeliharaan gencatan senjata dan stabilisasi kondisi di wilayah konflik. Akan tetapi, tugas misi perdamaian makin berkembang seiring berjalannya waktu.
Tugas dalam misi pemeliharaan perdamaian diperluas dengan turut terlibat dalam implementasi perjanjian damai di antara pihak-pihak berkonflik, baik antarnegara maupun perang saudara dalam negeri.
Bahkan, misi perdamaian juga kerap bersinggungan dengan terorisme, radikalisme, dan penyakit menular dalam pelaksanaannya.
Baca juga: TNI Siap Berangkatkan Kontingen Garuda XXIII-N UNIFIL ke Lebanon
Keterlibatan aktif Indonesia dalam misi pemeliharaan perdamaian sesuai dengan apa yang tertera dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
“Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”
Selain itu, dalam UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri Pasal 10 diatur, bahwa “Pengiriman pasukan atau misi pemeliharaan perdamaian ditetapkan oleh Presiden dengan memperhatikan pendapat Dewan Perwakilan Rakyat.”
Selain itu, Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2015 tentang Pengiriman Misi Pemeliharaan Perdamaian, mengatur mekanisme pengiriman MPP, adanya rekomendasi Tim Koordinasi MPP dan DPR, adanya kewajiban memperhatikan aspek politik dan kepentingan sosial, penerapan prinsip dasar operasi pemeliharaan perdamaian PBB, serta pendanaan dalam rangka pengiriman personel MPP PBB.
Bukti keseriusan Indonesia lainnya dalam memelihara perdamaian dunia, adalah diresmikannya Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI (PMPP) di Sentul Bogor, Jawa Barat (Jabar), pada 19 Desember 2012.
Sebagai Badan Pelaksana Pusat, PMPP ada di bawah Markas Besar TNI sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2019 tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia.
Segala upaya Indonesia dalam pemeliharaan perdamaian, terutama dalam pengiriman Kontingen Garuda, menuai pujian dari berbagai pihak.
Pujian paling besar ditujukan pada kemampuan personel pasukan misi perdamaian dari Indonesia dalam pelibatan masyarakat tempat ditugaskan.
Baca juga: Dubes RI di Lebanon Sebut Kontingen Garuda Selamat dari Ledakan di Beirut
Kemampuan ini tidak terlepas dari keramahan personel Indonesia sehingga bisa mengambil hati masyarakat setempat.
Menjaga perdamaian dunia bukan tugas mudah. Setiap negara punya peran masing-masing dalam menjaga hingga menciptakan perdamaian, seperti yang Indonesia lakukan hingga sekarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Setkab, Peace Keeping, Amatan