INDOZONE.ID - Proyek Monorel Jakarta merupakan salah satu fragmen paling ikonik dalam sejarah transportasi publik di Indonesia.
Bagi warga Jakarta, proyek ini mungkin lebih dikenal melalui "tiang-tiang hantu" yang sempat berdiri mangkrak selama bertahun-tahun di kawasan Senayan dan Kuningan sebelum akhirnya dibersihkan atau dialihfungsikan.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai sejarah, ambisi, hingga kegagalan proyek Monorel Jakarta.
Baca juga: Pramono Bilang Dana Rp100 Miliar Tak Cuma Bongkar Tiang Monorel, Tapi Juga Penataan Jalan
1. Awal Mula: Mimpi Transportasi Modern (2003–2004)
Gagasan monorel pertama kali mencuat pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso di awal tahun 2000-an. Saat itu, Jakarta sedang mencari solusi radikal untuk mengatasi kemacetan yang kian parah.
Proyek monorel ini resmi dimulai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 14 Juni 2004.
Pada awalnya direncanakan dua jalur utama: Green Line (Jalur Hijau) yang berputar di pusat kota (Semanggi-Casablanca-Kuningan), dan Blue Line (Jalur Biru) yang menghubungkan Kampung Melayu dengan Taman Anggrek.
Baca juga: Polisi Tangkap Pria yang Nekat Curi Besi Monorel di Jaksel pada Pagi Hari
2. Masalah Finansial dan Penghentian Pertama (2008)
Baru berjalan beberapa tahun, proyek ini mulai terantuk masalah klasik: pendanaan. Investor awal mengalami kesulitan likuiditas, dan terjadi perubahan konsorsium berkali-kali.
Akibat ketidakpastian dana, pembangunan terhenti total pada tahun 2008. Ratusan tiang beton yang sudah tertanam di sepanjang Jalan Asia Afrika dan Jalan Rasuna Said dibiarkan merana, menjadi pemandangan sehari-hari yang menyedihkan bagi warga kota.
PT Jakarta Monorail (PT JM) meminta pemerintah DKI Jakarta untuk membayar ganti rugi atas tiang-tiang yang sudah dibangun jika proyek diambil alih, namun proses negosiasi berjalan alot.
3. Upaya Kebangkitan di Era Jokowi-Ahok (2013)
Harapan sempat muncul kembali saat Joko Widodo menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Pada Oktober 2013, Jokowi secara simbolis meresmikan kelanjutan proyek monorel di Setiabudi.
Pemerintah DKI saat itu memberikan syarat ketat kepada PT JM, termasuk bukti kemampuan finansial dan pemenuhan dokumen teknis.
Masalah muncul kembali terkait lokasi depo (yang direncanakan di atas Waduk Setiabudi) dan permintaan PT JM untuk hak pengelolaan ruang komersial di stasiun yang dianggap terlalu luas oleh Pemprov DKI.
4. Akhir Perjalanan: Pemutusan Kontrak (2015)
Pada tahun 2015, di bawah kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Pemerintah DKI Jakarta secara resmi memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan PT Jakarta Monorail.
PT JM dianggap tidak mampu memenuhi syarat-syarat teknis dan finansial yang diminta pemerintah. Ahok menyatakan bahwa lebih baik membangun sistem yang lebih terintegrasi seperti MRT dan LRT daripada melanjutkan proyek yang terus bermasalah.
Sebagian besar tiang monorel di Kuningan akhirnya dibongkar atau digunakan sebagai fondasi penyangga untuk proyek LRT Jabodebek yang lebih modern.
Sejarah Monorel Jakarta menjadi pengingat berharga bagi pembangunan infrastruktur di Indonesia bahwa visi yang besar memerlukan perencanaan finansial dan legalitas yang matang, bukan sekadar ambisi di atas kertas.
Meski jalurnya kini telah digantikan oleh sistem LRT yang lebih modern, kisah monorel akan selalu dikenang sebagai monumen pembelajaran tentang bagaimana sebuah kota belajar dari kegagalan untuk membangun sistem transportasi yang lebih baik bagi masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan