Ilustrasi penipuan phising berkedok pengiriman barang. (Youtube)
INDOZONE.ID - Ada ungkapan yang sering ditemukan saat berbicara tentang kejahatan dan penegakkan hukum di mana pun di seluruh dunia. Ungkapan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah bahwa “kejahatan atau pelaku kejahatan selalu selangkah lebih maju dari penegak hukum”.
Ternyata hal itu bukan hanya hiperbola, tetapi refleksi nyata dari sejumlah kondisi yang ada. Teknik, alat, dan kecepatan inovasi pelaku kejahatan sudah lebih dulu melaju dibandingkan kemampuan adaptasi penegak hukum.
Menurut Persatuan Jaksa Indonesia yang dikutip dari laman PJI Kejaksaan, menyebutkan bahwa perkembangan teknologi informasi yang pesat sering disalahgunakan sebagai alat kejahatan, sehingga aparat sering ketinggalan dan dalam menyelidik dan menindak.
Apalagi bila aparat atau bahkan masyarakat tak mau beradaptasi dengan teknologi dan kurang edukasi dalam kejahatan digital. Perkembangan teknologi yang cepat, dimanfaatkan pelaku untuk simpelnya melakukan kejahatan digital. Modus baru yang tak diprediksi, seperti penipuan digital atau cybercrime canggih, memakan waktu adaptasi aparat.
Baca juga: Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Dipolisikan Atas Dugaan Penipuan Haji, Korban Rugi Rp800 Juta
Salah satu kejahatan digital yang tak kalah bikin heboh adalah penipuan melalui jasa layanan pengiriman barang. Para pelaku kejahatan dengan licik bisa mengakali aplikasi, situs atau nomor telepon customer service untuk menipu pelanggannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, lonjakan aktivitas belanja online tak hanya memicu pertumbuhan isdutri logistik dan pengiriman barang, tetap juga membuka celah bagi kejahatan siber dan penipuan. Banyak konsumen menjadi korban penipuan yang mengatasnamakan perusahaan logistik, termasuk salah satu satunya J&T Express.
Modus penipuan semakin canggih dan terorganisir, mulai dari website palsu, notifikasi pengiriman palsu, hingga telepon atau pesan yang memaksa korban melakukan pembayaran atau membagikan data pribadi.
Aktris Asmara Abigail membagikan pengalamannya terkena phising. (Youtube)
Yang mengejutkan, bahkan publik figur sekaliber Asmara Abigail—aktris yang dikenal dari berbagai film horor—pun turut menjadi korban. Hal itu iaungkapkan di YouTube Channel RJL5 - Fajar Aditya episode ‘Asmara Abigail Tinggal di Rumah Mewah Penuh Teror Sampai Hilang 70 Juta dalam Sekejap?!’.
Peristiwa itu terjadi saat ia sedang bersiap menjalani syuting di daerah Takengon, Aceh. Karena keterbatasan bagasi pesawat kecil yang hanya mengizinkan 5 kilogram, Asmara memutuskan mengirimkan perlengkapan syuting melalui jasa ekspedisi langganannya, J&T Express.
Baca juga: Laris Manis Bisnis Jasa Pengiriman Selama Ramadhan, Lion Parcel Naik Tajam 20 Persen
Namun, beberapa hari setelah pengiriman, ia menerima pesan iMessage yang mengaku dari pihak J&T dan menyatakan bahwa paketnya bermasalah karena alamat tidak terbaca.
Dalam kondisi kelelahan dan tidak fokus setelah menyelesaikan dua film sekaligus, Asmara mengikuti instruksi dalam pesan tersebut. Ia diarahkan ke situs yang tampilannya menyerupai situs resmi, lalu diminta memperbarui alamat dan membayar biaya tambahan sebesar sembilan ribu rupiah. Tanpa curiga, ia mengisi data kartu kreditnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Analisis Redaksi, Youtube, Liputan