INDOZONE.ID - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengklaim Iran meminta pertemuan dengan pihaknya di Doha, Qatar, pada Selasa (30/6/2026), waktu setempat.
Trump menyampaikan kabar tersebut via media sosial miliknya, Truth Social, Senin 29 Juni 2026.
“Iran telah meminta pertemuan. Pertemuan itu akan berlangsung besok di Doha,” jelas presiden AS ke-45 dan 47 itu, dikutip dari Antara, Selasa (30/6/2026).
Seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, juga membenarkan pernyataan Trump. Ia melaporkan, bahwa AS dan Iran sepakat bertemu dengan pembahasan pelayaran Selat Hormuz.
Baca juga: Trump Perkenalkan Paspor Edisi Khusus AS Bergambar Dirinya untuk Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan
Namun, pernyataan berbeda justru keluar dari Iran melalui Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi. Ia membantah, bahwa akan ada pertemuan kelompok kerja antara Iran dan AS pada pekan ini.
"Tidak ada pertemuan teknis kelompok kerja yang dijadwalkan untuk minggu ini. Meskipun demikian, konsultasi dengan Qatar, termasuk mengenai pemenuhan kewajiban pihak lain berdasarkan memorandum, terus berlanjut,” kata Gharibabadi.
“Namun, laporan media tentang pembicaraan teknis antara kelompok kerja di Doha tetap belum terkonfirmasi," kata dia, menambahkan, seperti dikutip oleh kantor berita Tasnim.
Kesepakatan Awal Perdamaian
Pada 18 Juni 2026, AS dan Iran telah menyetujui kesepakatan awal perdamaian. Awal baik ini ditandai dengan penandatanganan memorandum elektronik oleh Trump dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Penandatanganan ini diharapkan jadi awal baik yang mengakhiri perang antara AS-Israel dengan Iran. Diketahui, perang ini dimulai oleh serangan AS-Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026 yang dibalas pihak Teheran.
Berdasarkan kesepakatan awal perdamaian ini, AS dan Iran akan berunding selama 60 hari dengan peluang perpanjangan demi tercapainya perdamaian. Nantinya, perundingan ini turut membicarakan program nuklir Iran dan sanksi internasional.
Baca juga: Jika Kesepakatan dengan Iran Gagal Tercapai, Donald Trump Punya Banyak Opsi: Nyerang Lagi?
AS dan Iran Saling Serang Lagi
Meski telah ada kesepakatan perdamaian awal dan gencatan senjata, AS menyerang Iran lagi pada akhir pekan lalu. AS menarget fasilitas Iran di Sirik dan Pulau Qeshm.
Serangan AS diklaim sebagai balasan kepada Iran yang dianggap telah melanggar gencatan senjata. Pelanggaran gencatan senjata ini terkait serangan Iran terhadap sebuah kapal niaga di Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melancarkan serangan balik yang menghancurkan delapan fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Serangan itu dikonfirmasi pada Minggu 26 Juni 2026.
Baca juga: Donald Trump Tak Terima jika Iran Tetapkan Biaya Transit Maritim
Saling serang di tengah kesepakatan awal perdamaian dan gencatan senjata, membuat dunia menantikan ujung konflik antara AS dan Iran.
Bagaimanapun, perdamaian kedua negara itu diharapkan segera terjadi karena konflik kedua negara itu mempengaruhi banyak negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara