INDOZONE.ID - Gempa bumi berkekuatan 7,2 magnitudo, mengguncang wilayah lepas pantai Jepang bagian utara pada Kamis (25/6/2026) pagi.
Meski guncangannya terasa hingga Tokyo, otoritas memastikan tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan besar akibat peristiwa tersebut.
Gempa terjadi sekitar pukul 07.30 waktu setempat dengan pusat gempa berada di perairan Prefektur Iwate, Pulau Honshu.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) awalnya mencatat kekuatan gempa sebesar 6,9 magnitudo, sebelum kemudian merevisinya menjadi 7,2 magnitudo.
Gempa berasal dari kedalaman sekitar 44 kilometer di bawah permukaan laut. JMA tidak mengeluarkan peringatan tsunami setelah gempa terjadi.
Baca juga: Harga Beras di Jepang Akhirnya Turun Setelah 3,5 Tahun, Warga Mulai Merasakan Dampaknya
Guncangan Terasa Hingga Tokyo
Getaran gempa dirasakan di berbagai wilayah Jepang, bahkan hingga ibu kota Tokyo yang berjarak ratusan kilometer dari pusat gempa.
Seorang warga Hashikami di Prefektur Aomori, Mutsumi Shimohata (61), mengaku terkejut ketika alarm peringatan gempa di telepon genggamnya berbunyi sesaat setelah guncangan mulai terasa.
Ia mengatakan, satu-satunya kerusakan di rumahnya hanyalah bingkai foto yang terjatuh dari dinding.
Meski rumahnya tidak mengalami kerusakan berarti, perusahaan tempatnya bekerja meminta seluruh karyawan tetap berada di rumah, setelah pintu otomatis kantor mengalami gangguan dan sebagian plafon bangunan runtuh.
Baca juga: Perempuan Ini Bagikan Potret Kagum Melihat Galian di Jepang Rampung Hanya dalam 10 Jam
Aktivitas Transportasi Sempat Terganggu
Dampak gempa juga dirasakan pada sejumlah layanan transportasi. Beberapa perjalanan kereta cepat Shinkansen sempat dihentikan sementara sebagai langkah antisipasi.
Di Hashikami, sebuah sekolah dasar juga sempat ditutup sementara hingga kondisi dinyatakan aman.
Stasiun televisi NHK melaporkan sedikitnya empat panggilan darurat diterima petugas pemadam kebakaran dari wilayah Hashikami dan Hachinohe.
Selain itu, terdapat laporan mengenai warga yang terjebak di dalam lift, pintu bangunan yang macet, hingga sebuah truk tangki yang terguling.
Rekaman televisi juga memperlihatkan sejumlah peralatan dapur berjatuhan dari lemari. Sementara barang-barang di beberapa toko, berserakan akibat guncangan.
Pemerintah Pastikan Belum Ada Korban Jiwa
Juru bicara utama pemerintah Jepang, Minoru Kihara, menyatakan, hingga saat ini belum ada informasi mengenai korban jiwa akibat gempa tersebut.
Meski demikian, pemerintah terus memantau perkembangan situasi dan melakukan penilaian terhadap kemungkinan kerusakan yang belum terlaporkan.
Sementara itu, Otoritas Regulasi Nuklir Jepang memastikan tidak ditemukan gangguan ataupun kondisi abnormal di seluruh fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir yang berada di wilayah terdampak.
Lalu lintas di Kota Hachinohe juga tetap berjalan normal, dengan lampu lalu lintas yang masih berfungsi sebagaimana mestinya.
Guncangan Mencapai Level Tinggi
Di Prefektur Aomori, intensitas gempa mencapai level enam atas pada skala Shindo milik Jepang yang memiliki tujuh tingkat.
Pada tingkat tersebut, seseorang umumnya akan kesulitan berdiri tanpa berpegangan. Perabot rumah yang tidak terpasang dengan kuat berpotensi roboh, sementara kaca jendela dapat pecah akibat kuatnya guncangan.
Perdana Menteri Minta Warga Tetap Waspada
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, langsung menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga pemerintah untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam menangani dampak gempa.
Melalui akun media sosial X, ia mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak agar tetap berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan serupa.
Jepang Berada di Jalur Cincin Api Pasifik
Jepang merupakan salah satu negara dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia, karena berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama yang membentuk kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.
Negara tersebut mengalami ratusan gempa setiap tahun, dan menyumbang sekitar 18 persen dari total aktivitas gempa bumi dunia.
Sebagian besar memang berkekuatan kecil, tetapi potensi kerusakannya bergantung pada lokasi serta kedalaman pusat gempa.
Trauma masyarakat Jepang masih melekat pada gempa dahsyat 9,0 magnitudo yang terjadi pada 2011.
Gempa bawah laut tersebut memicu tsunami besar, yang menewaskan atau menyebabkan sekitar 18.500 orang hilang serta memicu bencana nuklir di Fukushima.
Belum lama ini, tepatnya pada 20 April 2026, Jepang juga diguncang gempa 7,7 magnitudo yang melukai sedikitnya 10 orang, dan mengguncang gedung-gedung tinggi di Tokyo.
Saat itu, pemerintah sempat mengeluarkan peringatan khusus terkait meningkatnya risiko gempa berkekuatan 8 magnitudo atau lebih besar, sebelum akhirnya dicabut sepekan kemudian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters.com