Jumat, 08 MEI 2026 • 17:30 WIB

Mengapa Korea Utara Boleh Punya Nuklir sedangkan Iran Tidak?

Author

Mengapa Korea Utara boleh punya nuklir sedangkan Iran tidak. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)

INDOZONE.ID - Amerika Serikat (AS)-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 yang memicu perang di antara pihak-pihak tersebut hingga sekarang. Selain untuk pergantian rezim di pihak Teheran, penyerangan AS-israel ke Iran juga dilatarbelakangi faktor nuklir.

Iran yang ada di ambang batas pemanfaatan nuklir, dianggap makin dekat untuk memiliki persenjataan nuklir sendiri. Oleh sebab itu, operasi besar Epic Fury dikerahkan AS supaya skenario itu tidak jadi kenyataan.

Rudal Iran menuju wilayah Israel. (REUTERS/Mussa Qawasma)

Konflik AS-Israel dengan Iran bahkan mempengaruhi ekonomi global karena eskalasi di Selat Hormuz. Kamu harus tahu, Selat Hormuz merupakan jalur maritim yang dilewati 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Kini, banyak pihak menunggu perdamaian tercapai antara ketiga negara yang tengah bertikai tersebut, supaya ekonomi dunia kembali seperti semula.

Baca juga: AS Ancam Serang Iran Lagi jika Tolak Kesepakatan

Namun, muncul pertanyaan di benak banyak orang, kenapa AS dan Israel begitu aktif mencegah Iran memiliki senjata nuklir, tapi tidak demikian dengan Korea Utara (Korut)?

Padahal, Korut secara terang-terangan telah menunjukkan diri sebagai salah satu negara yang memiliki senjata nuklir. Selain itu, hubungan internasional Korut dengan AS pun on-off, kadang baik tapi bisa juga sebaliknya.

Supaya kamu gak bingung, simak penjelasan mengapa Korea Utara boleh punya nuklir sedangkan Iran tidak.

Beda Korea Utara dan Iran dalam Kepemilikan Senjata Nuklir

Kamu harus tahu, berdasarkan data 2025, ada sembilan negara yang memiliki senjata nuklir. Korut merupakan salah satunya.

Selain Korut, ada AS, Britania Raya, Prancis, Israel, Pakistan, India, Rusia, dan China. Sebanyak lima dari sembilan negara tersebut tergabung dalam Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT).

NPT merupakan perjanjian yang bertujuan mencegah penyebaran senjata nuklir, untuk mendorong kerja sama dalam penggunaan energi nuklir secara damai, untuk memajukan tujuan perlucutan senjata nuklir, dan perlucutan senjata umum serta lengkap.

Berdasarkan perjanjian NPT, negara-negara yang bukan pemilik senjata nuklir, berkomitmen tidak memproduksi atau memperoleh senjata nuklir atau perangkat peledak nuklir lainnya.

Di sisi lain, negara-negara yang punya senjata nuklir, berkomitmen untuk tidak dengan cara apa pun membantu, mendorong, atau membujuk negara bukan pemilik senjata nuklir untuk memproduksi dan memperoleh senjata nuklir atau perangkat peledak nuklir lainnya.

Lantas apa kriteria sebuah negara dikategorikan sebagai negara yang punya senjata nuklir? Berdasarkan perjanjian NPT, kriterianya adalah negara tersebut memproduksi dan meledakkan senjata nuklir atau perangkat peledak nuklir sebelum 1 Januari 1967.

AS, Rusia, China, Prancis, dan Britania Raya adalah negara-negara pemilik senjata nuklir (NWS), yang diakui NPT.

Mengapa Korea Utara boleh punya nuklir sedangkan Iran tidak. (REUTERS/Jamal Awad)

Kepemilikan senjata nuklir negara-negara tersebut diakui, tapi tidak untuk selamanya sesuai Pasal VI NPT. Pada tahun 2000, NWS pun berkomitmen pada janji tegas untuk penghapusan total persenjataan nuklir.

Sejatinya, Korut juga tergabung dalam NPT sebelum menyatakan keluar pada 2003. Meski begitu, keluarnya Korut disebut belum diakui secara hukum oleh negara-negara anggota NPT lainnya.

Setelah cabut dari NPT, Korut telah menguji perangkat nuklir dan rudal balistik dengan kemampuan nuklir hingga sekarang.

Baca juga: Prancis Jamin Keamanan Selat Hormuz, Tapi Iran Harus Setujui Proposal AS

Sementara itu, Iran masih dalam NPT, tapi mengancam menarik diri untuk mengejar pencegahan nuklir jika pertimbangan keamanannya berubah.

Iran kini ada di ambang batas pemanfaatan nuklir. Iran dianggap banyak pihak telah mengembangkan kapasitas yang diperlukan untuk membuat senjata nuklir.

Lalu, bagaimana dengan India, Pakistan, dan Israel? Ketiga negara itu tidak pernah bergabung dengan NPT, tapi memiliki persenjataan nuklir.

Pendekatan terhadap Korut dan Iran Berbeda soal Nuklir

Menilik penjelasan di atas, Korut terkesan lebih siap perihal persenjataan nuklir ketimbang Iran yang baru mengumpulkan uranium di ambang batas pemanfaatannya.

Namun, kenapa AS bersama sekutu Israel justru melakukan serangan ke Iran, ketimbang Korut yang jelas punya kemampuan dalam persenjataan nuklir? 

Kamu harus tahu, pada 2017 hingga 2018, hubungan AS yang saat itu dipimpin Donald Trump, dengan pimpinan Korut Kim Jong Un sempat memanas.  

Bahkan, eskalasi itu memicu ketakutan terhadap peluang terjadinya perang terbuka yang melibatkan nuklir dari kedua pihak. 

Para ahli pun menanggapi peluang perang ini dengan serius. Untungnya, potensi terburuk itu tidak jadi kenyataan.

Pada 2018 dan 2019, Trump dan Kim bertemu sebanyak tiga kali. Akan tetapi, pertemuan itu tidak menemui kata sepakat karena masalah persenjataan nuklir Pyongyang.

Pada 2025, Kim mengisyaratkan peluang untuk bertemu Trump lagi jika AS mencabut tuntutannya soal penyerahan senjata nuklir Pyongyang.

Kim Jong Un. (Photo/REUTERS/KCNA)

AS tidak sampai menyerang Korut kala itu karena tahu potensi perang besar yang bisa menghancurkan banyak pihak. 

Bisakah kamu membayangkan bagaimana jadinya dunia jika dua negara pemilik senjata nuklir mapan saling serang? Oleh sebab itu, AS mengambil langkah bijak dengan tidak melakukan serangan aktif ke Korut.

Baca juga: Perdamaian Makin Dekat, Presiden AS Donald Trump: Kesepakatan dengan Iran Amat Mungkin Tercapai

Berbanding terbalik dengan Korut sebagai negara dengan persenjataan nuklir mapan, Iran baru berada di ambang batas yang masih bisa dipaksa balik ke setelan awal.

Tak ayal, AS berani melakukan serangan militer ke Iran. Meski menciptakan perang, itu terjadi tanpa penggunaan persenjataan nuklir. 

Tujuan AS adalah mencegah pihak Teheran yang masih jadi anggota NPT, jadi salah satu negara dengan kekuatan persenjataan nuklir. Karena dalam NPT, hanya negara-negara NWS yang boleh memiliki persenjataan nuklir.

Seperti penjelasan awal, selain alasan nuklir, AS pun ingin mengganti rezim yang memimpin Iran sekarang, dengan pilihannya.

Banyak Pihak Menunggu Akhir Peran AS-Israel dengan Iran

Bagaimanapun, perang AS-Israel dan Iran turut mempengaruhi perekonomian global dengan apa yang terjadi di Selat Hormuz. 

Pada 7 April 2026, perang yang berlangsung sejak 28 Februari lalu, memasuki masa gencatan senjata.

Pertemuan pihak Washington DC dan Teheran terjadi di Islamabad, Pakistan, pada 11 dan 12 April 2026, untuk membicarakan kesepakatan damai. Akan tetapi, kesepakatan urung terwujud.

Namun, kesepakatan damai kini bak makin dekat terwujud dengan AS mengirim proposal kesepakatan, yang didalamnya juga membahas Iran tidak memperoleh persenjataan nuklir. Proposal itu disampaikan via pihak mediasi Pakistan ke Iran.

Pada Rabu 6 Mei 2026, Iran masih meninjau usulan AS. Iran akan menginformasikan keputusannya usai melakukan penilaian internal.

Jika pihak Teheran menyetujui setiap usulan AS, termasuk soal pembatasan nuklir, perang antara Paman Sam-Israel dengan Iran diharapkan segera berakhir.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters, Antara, Arms Control, The Hill, Foreign Policy Talks

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU