INDOZONE.ID - Dengan Lebanon kembali dilanda perang, Presiden Joseph Aoun, yang juga mantan panglima tentara, sebelumnya berjanji akan melucuti senjata Hizbullah. “Saya terlahir sebagai seorang optimis,” katanya dalam pertemuan di Istana Baabda, Agustus lalu. Namun kini, dengan serangan Israel terus berlanjut, optimisme itu tampak memudar.
Hizbullah, atau “Partai Tuhan” dalam bahasa Arab, dibentuk pada 1980-an selama pendudukan Israel di Lebanon dalam Perang Saudara Lebanon. Sejak awal, kelompok ini didanai, dilatih, dan dipersenjatai oleh Iran. Penghancuran Israel tetap menjadi salah satu tujuan resminya.
Kelompok ini ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh sejumlah negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat. Namun di Lebanon, Hizbullah lebih dari sekadar milisi. Ia juga merupakan partai politik yang memiliki perwakilan di parlemen dan pemerintahan, serta gerakan sosial yang menyediakan layanan seperti sekolah dan rumah sakit. Hizbullah menjadi salah satu kelompok paling kuat di negara tersebut.
Baca juga: Perang Iran Hari ke-41: Lebanon Berkabung, 254 Tewas dalam Sehari
Pemerintah Tanpa Kartu di Tengah Negosiasi dengan Israel
Sejak menjabat, Presiden Aoun mendorong kebijakan yang disebutnya sebagai “monopoli negara atas senjata”. Namun, ia juga memperingatkan bahwa upaya melucuti senjata Hizbullah tanpa persetujuan kelompok tersebut dapat memicu kekerasan. “Kita tidak bisa membiarkan negara terjerumus ke dalam perang saudara lain,” ujarnya.
Michael Young, editor senior di Carnegie Center di Beirut, menilai sebagian pihak terlalu naif jika mengira tentara Lebanon yang kekurangan peralatan dan dana mampu melucuti Hizbullah. “Anda tidak bisa datang ke komunitas Syiah dan memaksakan ini dengan kekuatan. Anda akan gagal, dan ini akan menjadi bencana,” katanya.
Terkait kemungkinan negosiasi dengan Israel, ia menyebut Lebanon berada dalam posisi lemah. “Pemerintah tidak memiliki kartu apa pun untuk ditawarkan, dan ini adalah realitas yang harus diterima,” ujarnya.
Dalam pidato televisi bulan lalu, Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem mengatakan kelompoknya tidak merespons serangan Israel selama masa gencatan senjata. “Kesabaran kami ada batasnya,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa Hizbullah tidak akan memperdebatkan kepemilikan senjatanya dengan pihak mana pun.
Baca juga: Israel Perluas Serangan, Infrastruktur Lebanon Lumpuh dan Warga Terisolasi
Resistensi Bersenjata: Jantung Hizbullah
Resistensi bersenjata menjadi inti keberadaan Hizbullah. Simbol kelompok ini menampilkan tangan yang menggenggam senapan serbu. Hizbullah juga merupakan bagian dari “Poros Perlawanan” yang didukung Iran, bersama kelompok lain seperti Hamas di Gaza dan Houthi di Yaman.
Nicholas Blanford, penulis Warriors of God, menyebut masa depan Hizbullah kemungkinan besar tidak ditentukan di Beirut, melainkan di Teheran. “Hizbullah berpusat pada prioritas perlawanan. Semua elemen lain ada untuk melindunginya. Jika komponen militernya dihilangkan, organisasi ini akan berubah sepenuhnya,” ujarnya.
Lebih dari 1,2 juta orang dilaporkan mengungsi di Lebanon sejak konflik kembali memanas. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 2.000 orang tewas dalam enam minggu terakhir. Banyak warga merasa terjebak dalam siklus krisis berkepanjangan.
“Tidak ada jeda. Sepanjang hidup saya, rasanya seperti berada dalam perang terus-menerus,” kata Mohammed Hamoud, sambil menatap bangunan tempat tinggal yang sebagian runtuh. “Semoga ini menjadi yang terakhir, dan semuanya bisa membaik.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bbc.com