INDOZONE.ID - Australia seperti banyak negara lain di dunia, tengah dilanda krisis bahan bakar. Negara ini mengalami lonjakan harga bensin dan diesel terbesar sepanjang sejarah, dengan industri truk menjadi salah satu sektor yang paling terdampak.
Operator truk sangat bergantung pada diesel untuk menggerakkan kendaraan jarak jauh. Banyak pelaku usaha menyebut biaya operasional telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak perang di Iran meletus, yang mendorong harga minyak ke rekor tertinggi secara global.
Dalam pidato nasional yang jarang dilakukan, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyampaikan pernyataan singkat terkait kondisi pasokan bahan bakar. “Ini adalah masa yang tidak pasti,” ujarnya. Ia juga mengimbau masyarakat untuk “memikirkan orang lain” dalam penggunaan bahan bakar dan beralih ke transportasi umum jika memungkinkan.
Baca juga: Panic Buying Melanda Australia, PM Albanese Pastikan Pasokan BBM Aman
Tagihan Bahan Bakar Melonjak Dua Kali Lipat
Bagi Aaron Fischer, pemilik perusahaan operator truk, pernyataan Albanese belum memberi kelegaan. Ia bahkan mengaku sering sulit tidur demi menjaga bisnisnya tetap berjalan.
“Saya berbaring di tempat tidur dengan laptop, hanya menghitung angka,” katanya kepada BBC.
Lonjakan harga diesel membuat biaya operasionalnya membengkak drastis. “Sebelumnya, biaya mengisi tangki sekitar A$3.600 (sekitar Rp38 juta). Sekarang mencapai A$7.500 (sekitar Rp79 juta). Artinya, biaya saya benar-benar naik dua kali lipat,” jelasnya.
Fischer mengoperasikan lebih dari selusin truk setiap minggu melintasi Dataran Nullarbor, wilayah gurun sepanjang 1.200 km. Setiap truk membawa sekitar 2.500 liter bahan bakar, dengan konsumsi yang bergantung pada muatan, mulai dari mesin berat hingga air kemasan dalam jumlah besar.
“Dulu kami menghabiskan sekitar A$150.000 per bulan untuk bahan bakar. Sekarang mencapai A$300.000. Dan kami harus menyiapkan dana itu di muka,” katanya. Ia menambahkan, pembayaran dari klien biasanya baru diterima setelah 60 hari, sehingga ia harus menalangi hingga A$600.000 sebelum mendapatkan pemasukan.
Bantuan Pinjaman Dinilai Belum Cukup
Pemerintah Australia telah mengumumkan paket pinjaman tanpa bunga senilai A$1 miliar untuk sektor transportasi, angkutan, serta produsen bahan bakar dan pupuk. Namun, kebijakan ini dinilai belum menyentuh akar persoalan.
Alex Randall dari perusahaan pengangkut kargo Loadshift mengatakan, pinjaman tanpa bunga tetap menjadi beban bagi pelaku usaha. “Pinjaman tetaplah utang. Jika Anda operator kecil yang biaya bahan bakarnya melonjak dan pelanggan mulai membatalkan pekerjaan, hal terakhir yang dibutuhkan adalah tambahan utang,” ujarnya.
Menurutnya, operator kecil lebih membutuhkan bantuan langsung atau subsidi cepat untuk menutup biaya bahan bakar.
Salah satu sopir Fischer, Michael Webb (33), yang telah hampir satu dekade bekerja di industri ini, juga merasakan dampaknya. “Saya belum pernah melihat biaya pengisian truk setinggi ini. Ini benar-benar di luar kendali,” katanya.
Ia menilai pidato pemerintah belum cukup membantu, padahal industri logistik memegang peran penting dalam distribusi barang. “Semua yang Anda gunakan pernah diangkut truk, mulai dari makanan, minuman, pakaian, hingga ponsel,” tambahnya.
Baca juga: Australia Larang Warga Iran Berkunjung, Ini Alasannya
Kenaikan Harga Jadi Pukulan bagi Bisnis Baru
Kenaikan harga bahan bakar juga menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha baru. William Hawkes, yang baru memulai bisnis truk tiga bulan lalu, terpaksa menyesuaikan ulang tarif jasanya hingga naik sekitar sepertiga.
“Ini cukup jadi bencana saat Anda baru memulai,” ujarnya. Ia mengaku kondisi tersebut membuat hubungan dengan klien menjadi lebih sulit.
Perusahaannya mengangkut peralatan penting seperti ekskavator ke wilayah terdampak banjir. Meski margin keuntungan tetap, volume pekerjaan justru menurun karena banyak klien menunda atau membatalkan proyek.
Sementara itu, sopir truk veteran Terry Snell (68), yang telah lebih dari 40 tahun berkecimpung di industri ini, kini harus mengurangi aktivitas kerjanya. “Dulu kami beroperasi setiap minggu, sekarang hanya dua minggu sekali,” katanya.
Ia memperingatkan bahwa semakin banyak operator yang berhenti beroperasi karena tidak mampu menanggung biaya. “Saat ini sudah terjadi kekurangan truk. Jika masalah ini tidak segera diatasi, kita bisa menghadapi krisis rantai pasok,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BBC