INDOZONE.ID - Krisis air bersih di kamp al-Mawasi, Gaza selatan, semakin memprihatinkan. Warga harus menempuh jarak hingga 1,5 kilometer hanya untuk mendapatkan air, di tengah antrean panjang dan terik matahari.
Salah satunya dialami Nawaf al-Akhras. Bersama putra sulungnya, ia harus berjalan jauh sambil membawa botol dan jeriken demi memenuhi kebutuhan air keluarganya.
Setibanya di lokasi, ribuan orang sudah mengantre. Nawaf, ayah tujuh anak yang mengungsi dari Rafah dua tahun lalu, menyebut kondisi ini sebagai siksaan yang harus dihadapi setiap hari.
"Seluruh hari saya dan putra saya habiskan untuk mengantre air, dengan orang-orang yang datang dari jarak sangat jauh," kata Nawaf seperti yang dilansir dari Al Jazeera. "Ini penderitaan setiap hari, hanya agar kami bisa minum air."
Perusahaan Air Eta Berhenti Beroperasi, Penderitaan Berlipat Ganda
Krisis air di al-Mawasi dan beberapa wilayah Gaza memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Perusahaan Eta, yang menyediakan air bersih bagi pengungsi dari Rafah hingga Beit Hanoun, berhenti beroperasi karena kekurangan dana.
"Dulu, truk air datang hampir setiap hari di dekat tenda dan meringankan beban mengumpulkan serta mengangkut air," kenang Nawaf. "Tapi beberapa pekan ini, truk-truk itu berhenti, dan perjuangan kami mendapat air minum berlipat ganda."
Karena kerumunan luar biasa dan persaingan ketat, Nawaf hampir tidak bisa mengisi dua jeriken kecil. "Dua jeriken itu hampir tidak cukup untuk kebutuhan minum harian keluarga saya, memaksa kami menjatah bahkan air minum," ujarnya.
"Kami mati karena kelaparan, dan sekarang mereka menguji kematian dengan kehausan pada kami... ini yang tersisa," kata Nawaf dengan getir.
Baca juga: Dari Beirut hingga Gaza, Kisah Getir Warga Timur Tengah Rayakan Idul Fitri di Tengah Kecamuk Perang
Warga Protes, Anak-anak Sakit Akibat Air Tercemar
Krisis parah ini mendorong warga mengorganisir protes. Ratusan pengungsi berdemo pada Sabtu (5/4/2026), menuntut diakhirinya krisis air minum di tengah kondisi kemanusiaan yang keras.
Israel terus mencegah bantuan yang cukup masuk ke Gaza. Warga menyerukan lembaga internasional dan otoritas setempat untuk segera bertindak menyelamatkan ribuan anak dan lansia.
Salah seorang pengungsi, Salah al-Koush, mengatakan perjuangan mencari air menjadi mimpi buruk harian. Keluarganya yang berjumlah 13 orang terpaksa membeli "air utilitas" dengan kadar garam tinggi untuk minum, memasak, dan kebutuhan harian.
"Krisis saat ini memaksa banyak pengungsi di sini menggunakan air tercemar," kata al-Koush. "Saya takut pada empat anak saya; setiap hari ada kasus anak-anak sakit akibat air tercemar di kamp."
Infrastruktur Hancur, 65 Persen Sumur Air Rusak
Al-Mawasi dulu adalah jalur pertanian yang jarang penduduk. Namun, setelah ditetapkan sebagai "zona aman" oleh pasukan Israel, ratusan ribu pengungsi membanjiri kawasan ini meski infrastruktur dasarnya tidak memadai.
Lonjakan populasi memperparah krisis air yang disebut PBB sebagai bencana. Sebagian besar penduduk Gaza tidak menerima cukup air minum, dan kondisi ini "tidak hanya dapat diprediksi, tapi sudah diprediksi".
Otoritas Air Palestina mengonfirmasi serangan telah "menghancurkan infrastruktur air di Jalur Gaza". Sekitar 65 persen sumur air di beberapa wilayah rusak, menyebabkan penurunan tajam dalam kemampuan produksi dan distribusi air.
Akibat perang, ketersediaan air per kapita turun 97 persen. Total air yang tersedia di Gaza kini diperkirakan hanya 10 hingga 20 persen dari level sebelum perang. Pasokan ini pun tidak stabil dan bergantung pada ketersediaan bahan bakar.
Baca juga: Serangan Udara Israel ke Dekat Sekolah di Gaza Tewaskan 10 Warga Palestina
Kelaparan dan Kehausan Jadi Senjata Mematikan
Organisasi hak asasi manusia memperingatkan bahwa krisis ini bukan lagi sekadar produk sampingan perang, tapi telah bersifat sistematis. Menurut Euro-Med Human Rights Monitor, "kurangnya air minum bersih telah menjadi masalah hidup dan mati" bagi warga sipil.
Para ahli PBB dalam surat pada Juli 2025 berargumen bahwa yang terjadi melampaui krisis kemanusiaan konvensional. Ini masuk dalam kategori penggunaan sumber daya esensial sebagai alat tekanan.
Masalahnya tidak terbatas pada penghancuran infrastruktur, tapi juga pemotongan pasokan, pembatasan masuk bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan fasilitas air, serta menghalangi upaya perbaikan dan pemeliharaan.
"Blokade dan penghancuran infrastruktur sipil oleh Israel telah membuat sebagian besar dari dua juta penduduk Gaza mengungsi dan tanpa akses ke jumlah minimum air minum yang vital," kata para ahli PBB.
Mereka memperingatkan bahwa "penggunaan kehausan sebagai senjata" telah menjadi kenyataan di Gaza. "Memotong air dan makanan adalah bom yang sunyi namun mematikan."
Bagi Nawaf, ketakutan terbesar adalah musim panas yang akan datang. "Saya tidak akan menggambarkan penderitaan musim panas di tenda... Rasanya seperti benar-benar dipanggang di wajan. Tidak ada atap untuk melindungi kami atau tubuh anak-anak kami... dan sekarang, dengan kurangnya air minum, semuanya pasti akan menjadi bencana."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera.com